Pupuk Tanaman Padi Sawah - Panen Maksimal

Salah satu upaya untuk mengoptimalkan hasil panen tanaman Padi sawah adalah pemupukan yang tepat dan berimbang.
Pemupukan yang tepat dan berimbang adalah yang sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap fase pertumbuhan tanaman Padi, dan berdasarkan kandungan hara tanah sawah.
Berikut ini merupakan pemupukan tanaman Padi sawah dengan luas 1 hektar, dengan kandungan hara tanah kondisi N-P-K sedang

PERLAKUAN BENIH PADI

Rendam benih dalam larutan Agen Hayati (merek dagang Bactoplus, Agrobio, Petrobio, dll) selama 24 jam.
Tiriskan selama 24 - 48 jam, kemudian sebar di persemaian.

PERLAKUAN PUPUK SETELAH TANAM

8 HST (Hari Setelah Tanam)
Keringkan lahan dan semprot dengan larutan Agen Hayati  + pupuk Asam Amino.

PUPUK I (10 HST)
40 kg Urea + 50 kg ZA + 120 kg SP-36 + 50 kg KCl + 2,5 kg ZnSO4 + 1 kg CuSO4

PUPUK II ( 20-28 HST)
60 kg Urea + 50 kg KCl

PUPUK III (35-40 HST)
60 kg Urea

Catatan : saat aplikasi pupuk sawah dalam kondisi kering/macak, 24 jam kemudian lahan diairi.

PUPUK SEMPROT

Dosis untuk tanki 15 liter
30 dan 45 HST : 300 gram KNO3 + 15 gram MKP + mikro + fungisida

Semprotan Untuk Pengisian Bulir :
Lakukan setiap 1 minggu sekali pada saat pengisian bulir
5 sendok makan KCl + 1 sendok makan Asam Borat + 1 tutup botol  Jus Udang (Shrimp Juice)

ZPT (ZAT PENGATUR TUMBUH)

Pembentukan Akar : 2 ppm IBA saat tanam, ulangi 10-14 hari kemudian. semprot pada perakaran.Pembentukan Anakan : 2 ppm Auksin + 2 ppm Giberellin + 10 ppm Sitokinin.
Keluar Malai 5-10 % : 60 ppm GA3, ulangi 2 hari kemudian dengan 30 ppm GA3.

TANYA - JAWAB SEPUTAR PUPUK TANAMAN PADI SAWAH

Tanya : Kenapa masih aplikasi Urea pada Pupuk III apakah tidak overdosis dengan resiko rebah ? 
Jawab :  Aplikasi Urea tsb. hanya 30% kok, unsur Kalium sudah cukup tinggi 100 kg KCl (Pupuk I + II) untuk menghindari resiko rebah batang.
Akan lebih bagus bila pada Pupuk III aplikasi Urea diganti dengan pupuk Hydrokarate plus Boron (merek dagang Yara Liva Nitrabor) 

Tanya : Denger-denger unsur K dibutuhkan pada fase generatif -sedangkan N untuk fase vegetatif, tapi kenapa KCl diaplikasikan saat awal (Pupuk I) dan aplikasi Urea masih ada saat 35-40 HST (Pupuk III) ? 
Jawab : Aplikasi SP-36 + KCl disaat awal  dilakukan karena P dan K ketersediaannya sangat lambat.
Aplikasi Urea dibagi menjadi 3x (Pupuk I, III, dan III) untuk menghindari kehilangan N akibat penguapan dan pencucian. Bila Urea diaplikasikan sekaligus resikonya adalah overdosis.
Aplikasi K untuk fase generatif dapat dilakukan melalui spray (penyemprotan pupuk daun)

Tanya : Jika pakai Phonska gimana ?
Jawab : Aplikasikan Phonska untuk Pupuk I sebanyak 200 kg + 40 kg SP-36.

Tanya : Ditempat saya 1 ha Padi sawah usia 60-70 HST jika diberi Urea sekitar 40 kg kok malah terserang kresek, roboh dan kehilangan bobot ya..???  
Jawab : Kemungkinan kekurangan unsur Kalium, dan diperparah dengan monitoring serta menejemen fungsida yang tidak tepat.
Pupuk N maksimal diberikan saat 45 HST untuk varietas Padi berumur 100 hari, bila Urea diaplikasikan saat 60 hst itu sama artinya dengan memberi makan patogen... hehe !

Tanya : Kenapa masih pake ZA sih ? Padahal ZA dan Urea sama-sama mengandung N, apa tidak akan overdosis tuh..???! (dengan agak emosi..)
Jawab : Aplikasi pupuk ZA adalah untuk sumber S. Kandungan N pada ZA+Urea hanya sebanyak 30 kg aja kok. Patokan di atas berdasarkan kebutuhaan unsur untuk tanaman.

Tanya : Untuk mencukupi asupan unsur K selain dari pupuk KCl -pupuk apa lagi ya..?
Jawab : Bisa menggunakan pupuk ZK, KNO3, dan MKP.  

Tanya : ZnSO4 dan CuSO4 itu pupuk apa ya.. beli dimana ? 
Jawab : Itu adalah bahan kimia sebagai tambahan aja (tidak wajib), bisa dibeli di toko kimia terdekat.

Tanya : Didaerah saya sedang endemik Blast.. gmana ya..? Agar batang tidak mudah roboh/rebah selain diberi asupan K apa lagi ya?
Jawab : Untuk sawah endemik Blast wajib untuk mengurangi asupan N, sebagi gantinya dapat menggunakan POC berbahan dasar urine hewan + miroba penambat N.
Agar batang tidak mudah roboh selain K -akan lebih baik bila diberi Silikat. Tapi mengenai roboh batang penyebabnya berbeda-beda misalnya kondisi iklim, angin, dll. 

Tanya : IBA itu apa kang...? ppm itu maksudnya apa..???
Jawab : IBA adalah ZPT.  1 ppm = 1 miligram per-liter.

Tanya : Ini Kang Warso ya...???
Jawab : Iya...!

Tanya : Kang....?
Jawab : Apaa.... (lemesss...)

Sumber : Kang Warso
http://komunitas-bpp.blogspot.com/2014/02/pupuk-untuk-tanaman-padi-sawah.html?fb_action_ids=804045163019445&fb_action_types=og.comments

Silika (Si) : Hara Penting Pada Sistem Produksi Padi

Indonesia merupakan negara agraris yang beriklim tropis. Namun ironisnya, masih banyak hasil pertanian yang saat ini diimpor dari Negara lain, bahkan bahan makanan pokok yang paling penting seperti beras. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, produksi padi 2012 diperkirakan sebesar 68,96 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebesar 3,20 juta ton (4,87 persen) dibandingkan 2011. Meskipun ada kenaikan pada produksi padi, tetapi impor komoditas beras negara Indonesia juga telah mencapai 1,8 juta ton dengan nilai US$ 945,6 juta. Jumlah impor bahan komoditas pangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia yang pada tahun 2012 sudah mencapai 257.516.167 jiwa (Berita Resmi Statistik, 2012). Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya nilai impor bahan komoditas pangan tersebut seperti semakin berkurangnya lahan pertanian, semakin tidak menentunya iklim, berkurangnya jumlah sumber daya manusia dan kurangnya informasi ilmu pengetahuan terkini mengenai tanaman tersebut.
Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut supaya Indonesia bisa kembali melakukan swasembada komuditas pangan (beras), perlu dilakukan beberapa inovasi-inovasi seperti pembukaan lahan pertanian baru, pemanfaatan lahan yang belum termanfaatkan seperti lahan gambut, dan penerapan teknologi pertanian yang menyangkut rekayasa teknologi tanaman dan nutrisi. Nutrisi tanaman merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kestabilan hasil tanaman pangan tersebut. Salah satu nutrisi tanaman yang sangat penting dan sudah dilupakan oleh para petani di Indonesia adalah nutrisi unsur hara silika. Pengaruh positif unsur hara silika pada tanaman padi ini telah banyak dilaporkan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Cina, Korea Selatan,Taiwan, India, Sri langka, Vietnam, Filipina, Brazil dan Kolombia.
Silika (Si) merupakan salah satu unsur hara yang dibutuhkan tanaman golongan gramenae seperti tanaman padi, tebu, jagung dan tanaman lain yang bersifat akumulator silika, terdapat di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman yang kekurangan Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah, (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan, (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan hama dan penyakit, (4) tanaman mudah rebah, (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit sehingga hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah.
Namun demikian, peran silika sebagai unsur hara yang dibutuhkan jenis tanaman tersebut belum mendapatkan perhatian secara serius. Meskipun bukan termasuk unsur hara esensial, silika dikenal sebagai unsur hara yang bermanfaat (beneficial element), terutama untuk tanaman padi, tebu dan jagung. Kebutuhan nutrisi silika pada tanaman golongan gramenae tergolong sangat tinggi, tanaman padi mengangkut silika 100-300 kg/Ha dan tanaman tebu mengangkut silika 500-700 kg/Ha  dalam sekali panen. Besarnya kandungan silika yang diambil setiap kali panen tersebut mengakibatkan miskinnya unsur hara silika dalam tanah yang menyebabkan berkurangnya produktivitas tanaman tersebut. Dengan semakin intensifnya penanaman padi (2-3 kali setahun), maka akan semakin menguras unsur hara silika di dalam tanah bila tanpa diimbangi upaya mengembalikan unsur hara silika secara cepat dan efektif ke dalam tanah.
Silika mempunyai peranan penting untuk tanaman padi, tebu, jagung dan tanaman lain yang bersifat akumulator silika dalam hal : 1) meningkatkan hasil produksi tanaman, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit; 2) meningkatkan efisiensi dan translokasi hasil fotosintesis; 3) memperkuat akar tanaman serta meningkatkan root oxidizing power yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap keracunan Fe, Al, dan Mn; 4) diprediksi dapat menurunkan penggunaan pupuk fosfat dan urea hingga lebih dari 50 % dosis standar; 5) memperkuat batang tanaman sehingga dapat mengurangi kerobohan; 6) menekan laju transpirasi sehingga efisien dalam menggunakan air dan lebih tahan terhadap kekeringan; serta 7) menetralkan pH tanah di Indonesia yang cenderung bersifat asam karena pemberian urea dan pestisida.
Pola pengembalian unsur hara silika ke dalam tanah yang umum dilakukan di pertanian Indonesia biasanya dengan memanfaatkan jerami setelah panen berupa kompos jerami maupun sekam padi. Namun demikian, jerami atau sekam padi biasanya diangkut ke luar sawah atau langsung dibakar sehingga tidak ada waktu untuk mendekomposisinya. Alternatif sumber pupuk silika adalah limbah pabrik baja (slag) dan fly ash. Limbah pabrik baja memang mengandung SiO2 cukup tinggi (40%), namun masih mengandung logam berat yang berbahaya bagi tanaman, sehingga diprediksi dapat menimbulkan masalah pencemaran logam yang ikut terbawa ke lahan/lingkungan. Di Luar negeri, penggunaan pupuk Si sudah sangat intensif, ada yang diberikan sebagai kapur yang mengandung Si dan Ca, atau sebagai pupuk Si komersial seperti gel silika dan fused magnesium silikat. Beberapa pupuk Si telah dijual secara komersial di luar negeri seperti kalsium silikat slag, fuse magnesium fosfat, kalium silikat, porous hydrate kalsium silikat, dan silika gel. Sumber-sumber pupuk silika tersebut belum banyak dikenal dan tersedia di Indonesia. Selain itu, beberapa jenis pupuk silika yang sudah ada dipasaran dunia tersebut masih mempunyai beberapa kelemahan, pupuk silika jenis kalsium silikat, magnesium silikat dan kalium silikat bersifat basa, sehingga jika sering digunakan akan meningkatkan nilai pH tanah menjadi basa yang bisa berdampak pada turunnya produktivitas tanaman. Sedangkan pupuk silika jenis silika gel, fly ash dan terak baja mempunyai kelemahan pada waktu penyerapan silika oleh tanaman tersebut. Hal ini karena pupuk silika jenis ini mengandung silika dengan ukuran partikel yang cukup besar, sehingga proses pemecahan/pelapukan partikel oleh lingkungan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Dengan memanfaatkan teknologi nano, saat ini kami telah dapat menghasilkan pupuk silika dengan ukuran nanometer (1x10-9 meter) sehingga dengan ukuran partikel yang sangat kecil tersebut silika akan lebih mudah dan cepat di serap oleh tanaman padi sehingga mampu meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Penerapan pupuk nanosilika untuk pola pertanian di negara maju seperti Jepang dan Korea telah banyak dikembangkan, oleh karena efektifitas (kecepatan) meningkatkan proses fotositesis, sehingga secara kualitatif dan kuantitatif produksinya meningkat. Pola ini sangat efektif dan cepat sekali untuk menggantikan unsur Si yang hilang oleh berbagai faktor.

Pupuk nanosilika ini telah diuji pada penanaman padi jenis “situ bagendit” di area lahan sawah milik Kelompok Tani Bangun Karyo di desa Cangkring, Kelurahan Kunir, Kec. Dempet, Kab. Demak, Jawa Tengah. Pada uji coba ini telah dihasilkan gabah padi seberat sekitar 7,5 ton/Ha. Hasil ini lebih banyak dibandingkan panen sebelumnya yaitu rata-rata 4-6 ton/Ha sehingga ada peningkatan sekitar 1,5 ton/Ha. Selain di desa Cangkring, kita melakukan promosi dengan memberikan tester di beberapa daerah seperti Karangrayung, Grobogan; Kaliurang - Imogiri, Yogyakarta; Batang; Jaten, Karanganyar; Karanggede, Boyolali; Sawahan – Dimoro – Muntilan – Krasak – Grabak, Magelang; Sukamaju, Kab. Bogor dan Tambun, Bekasi. Dari beberapa daerah tersebut, sebagian besar petani yang telah mencoba menggunakan pupuk nanosilika kembali memesan produk pupuk nanosilika ini untuk digunakan dalam proses penanaman padi musim berikutnya serta ada juga yang di jual kepada petani-petani lainnya yang tertarik dengan hasil panen padi yang menggunakan pupuk nano silika, sedangkan sebagian besar lainnya masih dalam proses menunggu hasil panen padinya.

Title: Silika (Si) : Hara Penting Pada Sistem Produksi Padi; Written byGufron
http://diponnanotech.blogspot.com/2013/09/silika-si-hara-penting-pada-sistem.html?spref=fb

Efek Samping Fungisida Golongan Azol / Azole


 Efek Samping Fungisida Golongan Azol / Azole

Salam pertanian. Sejak tahun 2000-an penggunaan fungisida golongan azol, seperti score, anvile, topcore, folicur, opus, danvil, booster dan lain sebagainya mulai memasuki tanaman padi. Hal ini dipelopori oleh PT Sygenta yang mulai memperkenalkan Score 250 ec untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman padi (hawar pelepah helmintosporium, bercak daun cercospora dan bercak daun alternaria). Sejak itulah fungisida golongan azol yang tadinya diperuntukkan hanya untuk tanaman hortikultura akhirnya petani secara umum menggunakannya untuk mengendalikan penyakit pada tanaman padi.

Sebenarnya fenomena penggunaan fungisida azol pada tanaman padi oleh petani bukan didasari oleh keinginan mengendalikan penyakit di pertanaman padi mereka. Para petani tertarik menggunakan fungisida ini karena efek samping yang ditimbulkan oleh fungisida azol ini. Biasanya setelah aplikasi fungisida azol dua kali yaitu saat tanaman padi berumur kurang lebih 45 hst dan 65 hst tanaman padi akan terlihat menguning (daun, pelepah, daun bendera dan bulir padinya). Hal inilah yang menjadi daya tarik oleh petani sehingga mereka menyebut fungisida ini sebagai booster padi (booster=alat yang biasa di untuk menjernihkan gambar pada TV).

Semenjak animo petani terbentuk untuk menggunakan fungisida azol pada tanaman padi maka berbondong-bondong perusahaan pestisida lain mengikuti langkah-langkah PT Sygenta ini. Perusahaan yang mengikutinya antara lain PT Bayer Cropscience (Folicur 25 WP[Tebuconazole], Folicur 250 EC[Tebuconazole], Bayleton 250 EC[Triadimefon]), Nufarm (Booster), Indagro (Top core), BASF (Opus), Dalzon (danvil) dll. Mereka berjuang memperebutkan pasar fungisida azol di tanaman padi.

Dari semua perusahaan tersebut semua mengunggulkan produknya masing-masing. Mereka mengeklaim kalo produknyalah yang paling mampu meningkatkan produksi paling tinggi untuk tanaman padi mereka. Yach namannya jualan obat, he he......

Kali ini yang akan saya bahas adalah bukan sejarah perkembangan fungisida azol melainkan efek samping fungisida tersebut pada pertumbuhan tanaman. Fungsi utama penggunaan fungisida azol pada tanaman adalah untuk mengendalikan penyakit pada tanaman tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri dari beberapa kali pengamatan lapangan hasil demplot beberapa produk fungisida azol tersebut ada semacam efek samping yang ditimbulkan pada pertumbuhannya. Yaitu bahwa fungisida golongan azol ini mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman dan akan mempercepat proses pertumbuhan generatif. Kesimpulan ini bisa saya ambil dari beberapa fenomena lapangan:
·                     Ketika Fungisida azol ini kita aplikasikan pada tanaman padi, padi akan mengeras batangnya, daun menguning termasuk daun bendera dan bulir juga cepat menguning.
·                     Ketika kita aplikasikan pada tanaman semangka muda (umur kurang lebih 1 minggu) tanaman akan berhenti tumbuh, daun kaku bahkan daun pucuk mengering.
·                     Jika kita aplikasikan pada tanaman kacang panjang atau mentimun saat awal pembungaan keluarnya bunga tanaman ini juga akan terpacu dan lebih serempak.

Karena fungisida ini mempunyai efek samping penghambatan fase pertumbuhan vegetatif tanaman dan merangsang pertumbuhan generatif tanaman maka sangat disarankan supaya tidak sembarangan mengaplikasi fungisida azol ini. Disarankan dalam mengaplikasikan fungisida azol ini sebaiknya menunggu saat tanaman memasuki pertumbuhan generatif (mulai berbunga).

Maksud dan tujuan penulisan artikel ini bukan lain hanyalah supaya petani lebih hati-hati dan lebih bijaksana dalam penggunaan fungisida golongan azol pada tanaman mereka. Dan akhir kata semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Berdasarkan dari golongannya, Fungisida golongan Azole ada 62 jenis bahan aktif :
1.            1,2,4-triazole
2.            1,2,4-Triazole-1-yl- acetic acid
3.            1-(2-(2-Chlorobenzyl)-2-hydroxy-3,3-dimethylbutyl)-1,2,4-triazole
4.            1-(4-phenyl phenoxy)-1-(1,2,4-triazole-1)-3,3-dimethyl butane-2-ol
5.            1-H-1,2,4-triazole-1-yl-acetic acid hydrochloride
6.            2-(2'-hydroxy-5-methyl phenyl)-benzotriazole
7.            4-(4-Chloro-2-cyano-1H-imidazol-5-yl)benzoic acid
8.            4-Chloro-5-(4-methylphenyl)-1H-imidazole-2-carbonitrile
9.            4-Chloro-5-(4-methylphenyl)-1H-imidazole-2-carboxamide (A metabolite of
10.          4-Chloro-5-(4-methylphenyl)-1H-imidazole-2-carboxylic acid
11.          Azaconazole
12.          Banrot (Terrazole with Thiophanate-methyl)
13.          Bitertanol
14.          Bromuconazole
15.          Bromuconazole 46
16.          Bromuconazole 47
17.          Cyazofamid
18.          Cyproconazole
19.          Difenoconazole
Difenokonazol (Difenoconazole), yang digunakan oleh Syngeta pada merek dagangnya Score 250 EC
20.          Diniconazole
21.          Econazole
22.          Econazole nitrate
23.          Etaconazole
24.          Fenapanil
25.          Fenbuconazole
26.          Fluotrimazole
27.          Fluquinconazole
28.          Flusilazole
29.          Flutriafol
30.          Furconazole
31.          Furconazole-cis
32.          Hexaconazole
33.          Imazalil
34.          Imazalil sulfate
35.          Imibenconazole
36.          Ipconazole
37.          Metconazole
38.          Metronidazole
39.          Myclobutanil
40.          Paclobutrazol
41.          Pefurazoate
42.          Penconazole
43.          Prochloraz
44.          Prochloraz - manganese complex (4:1)
45.          Prochloraz copper chloride complex
46.          Prochloraz zinc complex
47.          Propiconazole
48.          Propiconazole I
49.          Propiconazole II
50.          Prothioconazole
51.          R 23 979 Imazalil base
52.          Tebuconazole
Tebuconazole, yang digunakan oleh Bayer Crop Science pada merek dagangnya Folicur 25 WP & Folicur 250 EC. Cara kerja Tebuconazole adalah dengan cara memblokir jalan untuk sintesis sterol. Hasil dari interfensi pada fungsi lapisan ini secara pasti akan menyebabkan kematian untuk jamur berbahaya. Gambar Struktur Molekul Kimia Tebuconazole :

53.          Terrazole
54.          Tetraconazole
55.          Thiadiazole copper
56.          Triadimefon
Bahan aktif ini digunakan oleh Bayer Crop Science pada merk dagangnya Bayleton 250 EC dengan Komposisi Triadimefon 250 g/l. Fungisida triazole sistemik pertama yang memiliki spektrum luas, sangat efektif untuk mengontrol Ascomycetes, Basidiomycetes dan Fungi Imperfecti. Bayleton adalah fungisida yang sangat efektif dengan aktivitas sistematis, contohnya, bahan aktifnya dapat diserap dengan baik oleh tanaman dan disebarkan di dalam sistem tanaman. Bayleton efektif untuk mengatasi penyakit seperti white root, rust dan powdery mildew. Bayleton memberikan perlindungan, efek penyembuhan dan juga benar-benar membasmi penyakit. Bayleton menghambat dan mengintervensi pertumbuhan appresoria dan haustoria, pertumbuhan dari mycelium dan pembentukan spora. Fungisida ini diserap dengan sangat cepat oleh tanaman. Gambar Struktur Molekul Kimianya :

57.          Triadimenol
58.          Triazbutil
59.          Tricyclazole
60.          Triflumizole
61.          Triticonazole
62.          Uniconizole-P

Referensi :  
·                     http://www.pesticideinfo.org/
·                     http://www.pesticideinfo.org/

Antisipasi terhadap penyakit BLAST pada Tanaman Padi

Salah satu penyakit yang menjangkiti tanaman padi adalah blas leher atau dalam bahasa di tempat saya orang-orang menyebutnya Teklik  atau patah leher, ini biasanya terjadi ketika musim penghujan dan ketika tanaman padi sudah keluar malai. hal ini terjadi di tempat saya menanam padi yaitu di Desa Sukawera Kecamatan Kertasemaya Kabupaten Indramayu. ada beberapa petak sawah yang sangat parah terkena penyakit patah leher ini hiangga dianggap gagal panen, karena hampir 95 % pada yang sudah keluar malai dan sudah terisi sekitar 25% terkulai bagian pangkal malai sehingga menjadi gabug atau tidak berisi. 

Dalam pada itu PPL kecamatan Kertasemaya turun ke lokasi dalam rangka peninjauan ke area sawah yang terkena penyakit blas tersebut. dan hasil dari analisa dari PPL tersebut bahwa memang benar padi tersebut terkena penyakit blas, untuk itu PPL kecamatan kertasemaya me wanti-wanti agar terhindar dari penyakit ini lakukan penyemprotan dengan Fungisida pada fase Primordia atau  menjelang keluar malai ( Bunting Tua), dan untuk mengantisipasi penularan ke arah yang lebih luas maka ulangi penyemprotan dengan fungisida pada fase malai sudah meratak sekitar 50%.
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya penyakit blas leher (Neck Blas) pada tanaman padi ini diantaranya yaitu : Suhu udara yang lembab, adanya hujan ketika keluar malai, bibit yang mengandung penyakit ini.
berikut gambar sawah yang terserang penyakit blas leher ini :

Untuk  mengentisipasi agar tidak terjangkit penyakit ini maka lakukan hal-hal berikut :

Berikut adalah beberapa cara pencegahan dan Pengendalian:
1. Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi . 
Salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT (Organisme penggangu Tumbuhan) antara lain dengan jalan sebagai berikut : a. Penggunaan varietas tahan & pembenaman jerami Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : Inpari 13, Luk ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago dll. Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang. b. Pemupukan berimbang Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan. c. Waktu tanam yang tepat Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.

2. Penggunaan Fungisida Kimia & Nabati 
a. Fungisida Kimia Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna. Beberapa fungisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit blas adalah yang mengandung 

bahan aktif isoprotionalanebenomyl+mancosebkasugamycin dan thiophanate methyl,fosdifen contoh : mikocide 70, Trycyclazole, Amistartop, Score, Pyoguilon, Nelumbo 250 EC, Prima Vit dll
b. Fungisida Nabati Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi. Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana dari bahan-bahan sederhana.

Berikut ini adalah beberapa cara membuat Fungisida Nabati:

  1. Cara I Bahan-bahan yang diperlukan (masing-masing 1-2 kg) : 1. bawang putih 2. temu ireng 3. temu lawak 4. umbi gadung 5. kencur 6. kalau mau lebih mantap, bisa ditambah kunir putih Langkah pembuatan: Cuci semua bahan dan tumbuk hingga halus dan campurkan jadi satu, campuran tersebut direndam dalam air bersih ± 5 liter air dalam wadah tertutup dan biarkan 3-4 hari hingga terjadi proses fermentasi setelah itu larutan diperas dan disaring dan siap digunakan. Untuk aplikasi, larutkan biang fungisida ini dalam air bersih dengan perbandingan 1 bagian : 4/5 bagian. Cara aplikasi bisa dengan disemprotkan ke tanaman yang terserang penyakit/belum (untuk pencegahan) dan atau dikocorkan langsung ke pangkal tanaman. Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). 
  2. Cara II Bahan 1. Lenkuas/ laos 1 kg 2. Kunyit/kunir 1 kg 3. Jahe 1 kg Cara Pembuatan 1. Ketiga bahan ditumbuk atau diparut 2. Ambil sarinya dengan cara diperas 3. Bahan siap digunakan untuk 2 sendok makan dicampur dengan air 10 15 liter. 
  3. Cara III Bahan : 1. Jahe 1 kg 2. Lengkuas 1 kg 3. Kunyit 1 kg 4. Labu siam 1kg Caranya : Keempat bahan tersebut diparut lalu diperas dan disaring diambil airnya. Masukkan air saringan tersebut ke dalam botol atau tempat air lainnya untuk persedian sewaktu-waktu. Untuk pemakaian campurlah setiap satu liter air dengan 20 cc larutan fungisida tersebut. Jika diperlukan untuk bahan perekat lain dan sekaligus sebagai protein bagi tanaman maka tambahkan 2 butir telur ayam untuk campuran fungisida alami. 
  4. Cara IV Bahan Daun Sirih 300 Gram (± 30 lembar daun) Daun Jambu biji (± 30 lembar daun) Lengkuas 300 Gram Alat Blender Cara Pembuatan Bahan-bahan dihancurkan dengan blender dengan sedikit air. Kemudian diperas diambil airnya. 3-5 sendok dicampur 10-15 liter air untuk disemprotkan. 
  5. Cara V Bahan : Air Kelapa 7 liter Susu segar 1 liter/ susu kaleng 1 buah Kuning telur 7 butir Madu 1 sendok makan Gula 1 sendok makan CIU (arak lokal) 1 liter bisa diganti dengan alkohol Bahan-bahan tersebut dicampur dan dapat diaplikasikan dengan dosis 250 ml dicampur dengan air 10-14 liter (1 tangki) 
 Demikian tulisan saya kali ini mudah-mudahan bermafaat bagi Para Petani dimana saja berada, untuk yang mau berbagi tips atau tukar pengalaman silahkan memberikan komentarnya di blog saya ini.

Referensi  

  • http://epetani.deptan.go.id/budidaya/penyakit-blas-pyricularia-oryzae-cav-pada-tanaman-padi-pengendaliannya-5282
  • http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/index.php/in/penyakit-padi-karena-jamur/200--penyakit-blas-
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Antisipasi terhadap penyakit Blas pada Tanaman PADI
Ditulis oleh Rozuqni -
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://pertanianorganik0.blogspot.com/2013/04/antisipasi-terhadap-penyakit-blas-pada.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.