PUSAT PENJUALAN BERAS LOKAL KUBU RAYA

07 Maret 2013 Kubu Raya - Pemerintah Kabupaten Kubu Raya telah memiliki pusat penjualan beras lokal hasil olahan petani setempat untuk memperluas pemasaran beras yang menjadi ikon kabupaten itu. "Selama ini untuk pemasarannya baru pada tingkat PNS dan pasar swalayan yang ada di Kubu Raya maupun Kota Pontianak, serta beberapa koperasi lainnya," kata Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan di Sungai Raya, Selasa (5/3). Mulai 2013, Pemkab Kubu Raya berkomitmen untuk memperluas pemasaran beras lokal Kubu Raya, agar bisa semakin menyerap beras dari petani dan meningkatkan penghasilan mereka. Ia menjelaskan pembukaan pusat penjualan beras lokal Kubu Raya yang berlokasi di Jalan Ali Anyang tersebut menjadi bukti keseriusan Pemkab Kubu Raya untuk memperluas pemasaran beras lokal tersebut. Ia berharap dengan terobosan tersebut hasil pertanian masyarakat bisa terserap oleh pasar yang kemudian meningkatkan animo masyarakat, khususnya para petani untuk lebih meningkatkan hasil pertaniannya dan membuka sawah baru. "Dengan demikian, tingginya angka pengangguran pun bisa ditekan karena masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan bisa menggarap lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, di sisi lain produksi beras Kubu Raya semakin meningkat sehingga bisa berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional," katanya. Pemkab Kubu Raya akan terus serius dalam meningkatkan produksi pertanian tersebut. "Karena sejak pertama kali dibentuk kita sudah berkomitmen, bahwa Kubu Raya harus bisa memberikan manfaat bagi bangsa ini. Sesuai dengan motto yang sudah kita gaungkan sejak tahun 2008 lalu, dari Kubu Raya, untuk Indonesia," kata Muda. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kubu Raya, Suharjo menyatakan sejak 2009 hingga saat ini, pihaknya terus berupaya untuk memperluas areal pertanian dan membuka lahan baru. "Alhamdulillah, saat ini perkembangannya sudah bisa dilihat, dimana sudah banyak tercetak sawah baru yang digarap oleh masyarakat. Bahkan, yang lebih membanggakan, animo masyarakat yang sangat besar bisa dilihat dari semakin banyaknya produk beras lokal yang dibuat oleh gabungan kelompok tani," katanya. Hingga saat ini, sudah ada empat merek dagang dari beras lokal yang dibuat oleh petani, bahkan sudah ada beberapa gapoktan lainnya yang siap mengeluarkan merek beras lokal sendiri. "Yang jelas, ini akan menjadi suatu terobosan terbaru dari Pemkab Kubu Raya dalam memperluas pemasaran beras lokal. Dan kami sangat bersyukur kebijakan yang dibuat Bupati Kubu Raya mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian dengan membantu terus memperluas areal pertanian di Kubu Raya," katanya. ( Sumber Kuburayakab.go.id )

LAPORAN PELATIHAN CARA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK ( Prt. Rintis - Kamis, 19042012 )


LAPORAN PELAKSANAAN PELATIHAN
   PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

Latihan ini di laksanakan adalah hasil Inovasi petugas dan petani pada saat mengikuti pelatihan Hama penyakit pada Hari Kamis, 12 April 2012

I.PENDAHULUAN.

A.     Latar Belakang.
Upaya untuk meningkatkan produksi dari sebuah usaha tani yang dilakukan oleh petani dan kelompok tani tidak terlepas dari penyuluhan, bimbingan dan pendampingan yang dilakukan oleh seorang petugas lapangan.
Penyuluhan adalah sebuah bentuk pembelajaran non formal yang diberikan kepada petani / kelompok tani dan keluarga tani guna meningkatkan kemampuan, keterampilan Sumber Daya Manusia ( SDM ) sebagai pelaku usaha dalam budidaya Pertanian.
Bentuk lain dalam upaya meningkatkan SDM tersebut ialah dengan melakukan pelatihan pelatihan dan pratik atau demonstrasi cara yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan kegiatan budidaya suatu tanaman yang sedang diusahakan, yang disampaikan oleh seorang Petugas.

B.     Pembuatan Pupuk Organik.
Satu diantara faktor penyebab menurunnya suatu produksi tanaman adalah disebabkan oleh kurangnya unsur hara tanaman.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, kami selaku petugas Lapangan telah melakukan pelatihan tentang cara pembuatan pupuk organik kepada petani / kelompok tani Perkebunan kelapa yang berada pada wilayah kerja penyuluhan.

II. Pelaksanaan Pelatihan .
     Waktu dan tempat .
Waktu pelatihan dilaksanakan selama satu hari penuh, mulai dari pukul 11.00 sampai pukul 16.00, bertempat di Dusun Parit Rintis, desa Punggur Kecil dengan mengambil tempat di rumah ketua Kelompok Tani
A.     Materi, Metode,dan Media Pelatihan.
Materi pelatihan adalah tentang bagaimana cara Pengendalian Pembuatan Pupuk Organik.
Metode yang disampaikan berupa Demonstrasi Cara.
Untuk menghidupkan suasana pelatihan dilakukan diskusi dan Tanya jawab diseputar pembuatan pupuk organik sehingga pelatihan tidak membosankan peserta.
Hal lain yang menjadi antusiasme peserta adalah adanya metode baru dalam cara pembuatan pupuk dengan menggunakan Trichoderma sp.
Selain dapat digunakan sebagai pengendali penyakit tanaman, Trichoderma sp. dapat digunakan sebagai bahan activator pembuatan pupuk organik.
Hal inilah yang menarik minat peserta dan mengharapkan untuk dilatih.

Media Pelatihan,
Media pelatihan yang diberikan berupa Demonstrasi cara tentang pembuatan pupuk organic mempergunakan jamur Trichoderma sp.


III. PENUTUP.
A.     Kesimpulan
Penyuluhan dalam bentuk pelatihan merupakan pola pembelajaran yang menarik untuk diikuti, namun dalam pelakasanaannya harus mempertimbangkan waktu dan tempat agar tidak mengganggu kegiatan para petani dan mereka akan lebih inten dan senang untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Tentunya pelatihan pelatihan yang berkaitan dengan suatu komoditi yang terjadwal dan berkesimabungan akan mendorong gairah petani, terlebih jika disertai dengan inovasi inovasi dalam teknik budidaya.
Satu hal yang perlu dilakukan adalah adanya kunjungan yang dilakukan oleh para pejabat dilingkungan instansi teknik, baik dalam bentuk penyuluhan maupun disaat melakukan pelatihan, mereka akan merasa sangat diperhatikan.

B.     Saran.
Pelaksanaan pelatihan yang telah dilakukan tentunya mempunyai sisi kelebihan dan kekurangan, namun bukan suatu halangan dalam menjalankan tugas sebagai petugas lapangan, namun perlu kiranya pelatihan tersebut dapat merangkum semua kelompok tani diwilayah kerja masing masing.
Mudah mudahan kedepannya kegiatan ini dapat terjadwal secara keseluruhannya dengan materi yang berkaitan dengan Agribisnis Pertanian.
Demikian kiranya laporan singkat tentang pelaksanaan pelatihan ini saya buat sebagai bentuk pertanggung jawaban hasil kerja.

Punggur Kecil 19 April 2012.
           Nara sumber :  Cece Lili Warlia, Jiji Ishak, Lili Ende Sunarli, Suherman

PELATIHAN HAMA & PENYAKIT ( Prt. Rintis - Kamis, 12042012 )

PELATIHAN PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT 
TANAMAN KELAPA
 ( Cocos Nucifera.L )

Lokasi Parit Rintis - Desa Punggur Kecil - Kec. Sungai Kakap
Kabupaten Kubu Raya
           

Keberhasilan usaha dalam pertanian, termasuk didalamnya adalah pembangunan Perkebunan tidak akan terlepas dari beberapa faktor yang terkait dengan usaha tersebut seperti:
§         Sumber Daya Manusia
§         Modal.
§         Ilmu Pengetahuan / Teknologi
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan melalui Bidang Penyuluhan Perkebunan yang mempunyai tugas dan fungsi untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada petani dan kelompok tani perkebunan.
Bentuk dari bimbingan / penyuluhan tersebut diantaranya adalah memberikan pelatihan pelatihan yang berkaitan dengan usaha perkebunan yang dilakukan, dan pada kesempatan ini diberikan pelatihan kepada petani pekebun kelapa tentang Pengendalian hama dan Penyakit tanaman kelapa.
Upaya tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan SDM para petani pekebun dalam mengelola usaha perkebunannya dengan ilmu pengetahuan / teknologi yang disampaikan.
Pada pelaksanaan pelatihan tersebut, mereka dibekali brosur yang mudah dipahami dan dilaksanakan dan tidak terlepas dari bimbingan para penyuluh Perkebunan yang ada.
Mudah mudah, apa yang dapat kami berikan akan memberikan manfaat yang sebesar besarnya dalam upaya pengelolaan usaha perkebunan kelapa tersebut.

                   Sungai Raya, April 2012
          Kepala Bidang Penyuluhan Perkebunan
                                                                                                         
                                  ttd

                         Ir. S u m a d i
          NIP: 1958.12.12.1995.03.1001





LAPORAN PELAKSANAAN PELATIHAN
   PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KELAPA


Oleh : Cece Lili Warlia
Petugas Lapangan Bidang Perkebunan
Desa  Punggur Kecil

PENGANTAR

Pelatihan yang diberikan kepada Kelompok Tani Perkebunan, Desa Punggur Kecil di Parit Rintis adalah Kelompok Tani yang berusaha dalam budidaya tanaman Kelapa ( Hibrida ).
Oleh karena  materi pelatihan yang disampaikan adalah tentang Pengendalian Hama dan Penyakit pada tanaman kelapa.

            Peserta pelatihan sebanyak 24 orang yang merupakan para pengurus dan anggota  dari 3 kelompok tani yang berada disekitar Prt Rintis dan Prt To’om, dan bagi peserta yang mengikuti pelatihan tersebut wajib mengimformasikan hasil pelatihan tersebut kepada mereka yang  tidak sempat mengikuti pelatihan tersebut.

            Sebagai bentuk tangung jawab, hasil pelatihan ini kami laporkan secara singkat dan mudah mudahan apa yang telah kita lakukan dan perbuat dapat memberikan manfaat, khususnya untuk para peserta pelatihan dapat menambah wawasan dan keilmuan tentang hama dan penyakit tanaman kelapa




I.PENDAHULUAN.

A.     Latar Belakang.
Upaya untuk meningkatkan produksi dari sebuah usaha tani yang dilakukan oleh petani dan kelompok tani tidak terlepas dari penyuluhan, bimbingan dan pendampingan yang dilakukan oleh seorang petugas lapangan.
Penyuluhan adalah sebuah bentuk pembelajaran non formal yang diberikan kepada petani / kelompok tani dan keluarga tani guna meningkatkan kemampuan, keterampilan Sumber Daya Manusia ( SDM ) sebagai pelaku usaha dalam budidaya Pertanian ( Perkebunan )
Bentuk lain dalam upaya meningkatkan SDM tersebut ialah dengan melakukan pelatihan pelatihan dan pratik yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan kegiatan budidaya suatu tanaman yang sedang diusahakan, yang disampaikan oleh seorang Petugas.

B.     Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa.
Satu diantara faktor penyebab menurunnya suatu produksi tanaman adalah disebabkan oleh gangguan / serangan hama dan penyakit tanaman.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas,kami selaku petugas Lapangan telah melakukan pelatihan tentang Pengendalian Hama dan Penyakit pada tanaman kelapa  kepada petani / kelompok tani Perkebunan kelapa yang berada pada wilayah kerja penyuluhan.

II. Pelaksanaan Pelatihan .
A.           Waktu dan tempat .
Waktu pelatihan dilaksanakan selama satu hari penuh, mulai dari pukul 10.00 sampai pukul 16.00, bertempat di Dusun Parit Rintis, desa Punggur Kecil dengan mengambil tempat di rumah ketua Kelompok Tani
B.     Jumlah Peserta.
Jumlah perserta berdasarkan undangan adalah 20. orang peserta dari 3 Kelompok Tani Perkebunan ( Kelapa Hibrida) yang berada di Prt Rintis dan Prt To’om.
Namun dalam pelaksanaanya jumlah peserta yang hadir adalah sebanyak 26.orang petani peserta
Pelatihan dihadiri oleh Sekretaris BP4K Kabupaten Kubu Raya, Bapak Ir. A.Rahman, sekaligus membuka acara pelatihan tersebut.
Dalam acara pelatihan tersebut hadir pula Kepala Bidang Penyuluhan Perkebunan Bapak.Ir. Sumadi beserta kasi Perkebunan Ibu Sumirah Sp. Dan beberapa staf dari BP4K Kabupaten Kubu Raya.
C.     Materi, Metode,dan Media Pelatihan.
Materi pelatihan adalah tentang bagaimana cara pengendalian hama dan penyakit yang menyerang tanaman kelapa,walaupun hal tersebut sering disampaikan dalam kegiatan penyuluhan namun tentunya hal ini akan mengingatkan kembali tentang hama dan penyakit yang suka menyerang taaman kelapa.
Metode yang disampaikan berupa menjelasan penjelasan tentang hama dan penyakit pada tanaman kelapa dan cara pengendaliannya.
Untuk menghidupkan suasana pelatihan dilakukan diskusi dan Tanya jawab diseputar budidaya tanaman kelapa sehingga pelatihan tidak membosankan peserta.
Hal lain yang menjadi antusiasme peserta adalah adanya metode baru dalam pengewndalian penyakit tanaman kelapa dengan menggunakan Trichoderma sp.
Selain dapat digunakan sebagai pengendali penyakit tanaman, Trichoderma sp.dapat digunakan sebagai bahan activator pembuatan pupuk organik.
Hal inilah yang menarik minat peserta dan mengharapkan untuk dilatihkan,dipratekan dan dapat diaplikasikan dilapangan.
Dan sesuai dengan kesepakat peserta bahwa meteri tersebut harap dilakukan seminggu setelah pelatihan ini.
Media Pelatihan,
Media pelatihan yang diberikan berupa buku tulis dan ballpoint serta kepada peserta diberikan juga brosur tentang pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kelapa  yang disusun sederhana agar mudah dipahami.

III. PENUTUP.
A.     Kesimpulan
Penyuluhan dalam bentuk pelatihan merupakan pola pembelajaran yang menarik untuk diikuti, namun dalam pelakasanaannya harus mempertimbangkan waktu dan tempat agar tidak mengganggu kegiatan para petani dan mereka akan lebih inten dan senang untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Tentunya pelatihan pelatihan yang berkaitan dengan suatu komoditi yang terjadwal dan berkesimabungan akan mendorong gairah petani, terlebih jika disertai dengan inovasi inovasi dalam teknik budidaya.
Satu hal yang perlu dilakukan adalah adanya kunjungan yang dilakukan oleh para pejabat dilingkungan instansi teknik, baik dalam bentuk penyuluhan maupun disaat melakukan pelatihan, meeka akan merasa sangat diperhatikan.

B.     Saran.
Pelaksanaan pelatihan yang telah dilakukan tentunya mempunyai sisi kelebihan dan kekurangan, namun bukan suatu halangan dalam menjalankan tugas sebagai petugas lapangan, namun perlu kiranya pelatihan tersebut dapat merangkum semua kelompok tani Perkebunan diwilayah kerja yang mempunyai 18 kelompok tani perkebunan.
Mudah mudahan kedepannya kegiatan ini dapat terjadwal secara keseluruhannya dengan materi yang berkaitan dengan usaha Perkebunan.
Demikian kiranya laporan singkat tentang pelaksanaan pelatihan ini saya buat sebagai bentuk pertanggung jawaban hasil kerja.


Punggur Kecil,  April 2012
Petugas Lapangan Bidang Perkebunan
      Desa  Punggur Kecil
                  ttd

    CECE LILI WARLIA
            NIP: 19590924.198803.1006






PELATIHAN PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIFITAS HASIL DAN MUTU PERKEBUNAN

PELATIHAN PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIFITAS
HASIL DAN MUTU PERKEBUNAN
( 25 Juli 2011 )

                  Peningkatan produksi dan produktifitas hasil dan mutu Perkebunan tidak terlepas dari kemampuan Sumber Daya Manusia ( SDM ), dalam hal ini petani/ kelompok tani sebagai pelaku yang berhadapan langsung dengan kegiatan budidaya perkebunan.    
Untuk mencapai upaya tersebut harus dibarengi dengan adanya peningkatan / penambahan pengetahuan dan keterampilan petani dari berbagai aspek, melalui bimbingan dan pelatihan yang diberikan oleh petugas lapangan maupun oleh lembaga terkait.
                  Sejalan dengan pemikiran tersebut, melalui Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Ketuhanan ( BP4K ) Kabupaten Kubu Raya telah mengadakan Pelatihan Peningkatan produksi dan produktifitas hasil dan mutu Perkebunan yang dilaksanakan oleh Sub Bidang Penyuluhan Perkebunan BP4K Kabupaten Kubu Raya.
                  Secara umum  pelatihan Peningkatan produksi dan produktifitas hasil dan mutu Perkebunan yang disampaikan berkaitan dengan  budidaya  tanaman kelapa dan secara khusus pesertanya adalah petani / kelompok tani, pembuat  gula kelapa / gula merah yang berada di Desa Punggur Besar, kecamatan Sungai Kakap.
Dengan dilaksanakannya pelatihan adalah untuk memberikan dorongan kepada petani / kelompok tani pembuat gula kelapa agar membentuk suatu wadah organisasi kelompok tani pembuat gula kelapa dan dengan terorganisirnya sebuah usaha yang dikelola secara kooperatif, akan dapat meningkatkan produksi dan produktifitas hasil serta mutu yang terkendali sehingga dapat memperbaiki nilai jual dari produk yang dihasilkan, sebagai output dari hasil latihan tersebut.


Penyelenggara  : Ir. Sumadi
Pelatih               : Suherman
Petugas             : Jiji Ishak, Lili ES, Cece LW
Di Post kan by  : Cece Lili Warlia / 21 Sept 2011

GAMBAR
PELATIHAN PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIFITAS
HASIL DAN MUTU PERKEBUNAN









KELAPA Ohhhhhhhhhhhhhh kelapa ?????


banyak sekali kegunaan kelapa ....
dari akar sampai ujung daun dapat di fungsikan...
Populasi tanaman kelapa Indonesia adalah yang terbesar di dunia, pohon kelapa tumbuh sekitar 3 juta hektar di Indonesia atau 31% dari total pohon kelapa dunia. Dari sini seharusnya Indonesia bisa menguasai produk berbahan dasar kelapa, misalnya produk minyak kelapa ,sabut,  tempurung, dll.
Saat ini untuk produksi sabut kelapa, Indonesia masih kalah dari India dan Filipina. Efisiensi produksi sabut India mencapai 50% lebih ,sementara Indonesia baru 10%. Untuk sabut kelapa, India dan Srilangka lah yang mengasai pasar dunia, sedangkan minyak kelapa masih didominasi oleh Filipina. Semua produk dan bahan baku kelapa sebenarnya sangat berpotensi besar, baik di pasar lokal maupun Internasional. Hampir semua bagian buah dan pohon kelapa bisa dimanfaatkan .
Beberapa bagian dari tanaman kelapa yang bisa dimanfaatkan untuk produk bernilai ekonomi sbb :
batang pohon kelapa
1.Batang Pohon Kelapa
Batang pohon kelapa selain dimanfaatkan sebagai kayu ,bisa pula dijadikan sebagai handikraft ,seperti misalnya pembuatan bahan cover Laptop ,notebook, dan bisa pula untuk bahan kerajinan seperti misalnya  sendok, sumpit , nampan dan beberapa perkakas rumah lainnya .
2. Batang Lidi kelapa
Lidi dan daun kelapa bisa dijadikan sapu,tempat tisu dan tas etnik dll.
3. Daun kelapa :
Daun kelapa bisa digunakan untuk pembungkus ketupat dan bahan kerajinan, serta untuk atap rumah.


4. Tempurung Kelapa
Tempurung kelapa bisa dijadikan berbagai produk ,seperti misalnya : arang untuk membuat karbon aktif (berguna untuk mengoperasikan kipas, filter air, briket, asap cair dan lainnya. Briket termpurung kelapa memiliki kalor yang tinggi dan menghasilkan panas yang bagus, sehingga briket cocok untuk industri makanan, dan industri-industri lainnya yang memerlukan pemanasan pada proses produksinya. Sedangkan tempurung yang digunakan untuk menghasilkan asap cair bisa digunakan untuk penqawetan makanan, ikandan desinfektan.Beberapa pengrajin mam;pu menyulap tempurung atau batok kelapa menjadi barang bermanfaat, seperti misalnya centong, dompet,sendok,mainan anak-anak, dll.


5. Sabut Kelapa
Produk berbahan sabut kelapa yang disebut cocopeat bisa digunakan sebagai media tanam dan media ternak cacing karena bisa menahan serapan air. Limbah cocopeat berupa serbuk kasar juga bisa digunakan sebagai bahan bakar Industri pembuatan batu bata dan tahu. Selain untuk cocopeat, serabut kelapa juga bisa digunakan sebagai bahan baku cocofiber yang digunakan untuk bahan pembuat matras, pengisi jok pesawat, jok mobil, kasur pegas, sikat, tali , filter, sebagai penahan erosi pada lereng pegunungan ataupun daerah pantai, untuk peredam suara . Cocofiber dapat digunakan juga untuk membuat cocopot yaitu pot berbahan sabut kelapa yang bisa digunakan sebagai media tanam alami . Sabut Kelapa juga dijadikan salah satu komponen dalam pembuatan briket


6. Daging buah kelapa
Pada bagian daging buah kelapa bisa untuk minyak kelapa, nata de coco, santan dan juga sebagai bahan minuman dan Iain-lainnya. Produk berupa minyak kelapa, yang diisukan sebagai minyak jahat atau minyak kampung, ternyata hanya propaganda pasar barat yang notabene mereka ingin melindungi pasar minyak kedelainya . Banyak ilmuwan yang menyatakan bahwa minyak Kelapa jauh Lebih sehat dari minyak manapun , baik untuk kosmetik maupun konsumsi.


7. Air Kelapa 
air kelapa muda sering dimanfaatkan sebagai obata-obatan tradisional dan kecantkan ,,karena mengandung vitamin c ,asam nikotinat,asam folat,dll
air kelapa juga merupakan minuman sumber oksien karena dapat menambah ion-ion yang hilang pada tubuh saat sedang berkeringat.

 peluang usaha ini juga sudah di jalankan oleh seorang pengusaha di kota Yogyakarta ..,,,

       Beliau mengatakan Bahkan, permintaan hasil kerajinan kayu kelapa, seperti pelengkap perkakas rumah tangga naik sejak tiga tahun belakangan. Menurut perajin sekaligus penjual kerajinan dari kayu kelapa di Yogyakarta, Riadina, pesanan asbak, nampan, mangkuk, lampion lampu, hingga gazebo makin diminati masyarakat. "Sejak saya mempromosikan barang kerajinan kayu kelapa lewat internet, pesanan meningkat hingga 50%," tutur pemilik situs www.joglohandycraft.wordpress ini.







Letusan Gunung Merapi pun tak menyurutkan permintaan. "Pesanan selalu datang, tak ada pembatalan. Hanya, saya mengalami kesulitan dalam pengiriman," ungkap Riadina.

Tekstur kayu kelapa yang kasar serta serat yang unik, justru disukai pembeli. Kesan alami dan ramah lingkungan begitu terlihat dalam bermacam produk kerajinan itu.

Apalagi, kayu kelapa juga dikenal bandel. Kayu ini antirayap dan tahan dalam segala kondisi cuaca atau tak gampang memuai.

Selain itu, furnitur berbahan kayu kelapa masih memiliki kesan eksklusif lantaran belum banyak pemakaiannya sebagai kerajinan. Segala kualitas yang dimiliki pohon kelapa telah menjadikan kayu kelapa layak dijadikan bahan baku kerajinan. "Dibandingkan dengan kerajinan yang terbuat dari kayu lain, kayu kelapa jelas lebih aman karena penggunaan bahan kimianya tidak terlalu banyak. Hanya terdapat di catnya saja," jelas Budiyana, pemilik Jingga Craft yang memiliki galeri di Meruya, Jakarta.Untuk mendapatkan hasil kerajinan kayu kelapa yang bagus dan sesuai dengan model yang diharapkan, Riadina bilang, ia harus memilih kayu kelapa yang benar-benar kering. Jika basah sedikit saja, ia langsung menjemurnya. Kayu yang benar-benar kering untuk menghindari barang kerajinan nantinya tak mudah retak. Selain itu, ketika proses pewarnaan, catnya bisa lebih merata. Supaya terlihat indah, Budiyana pun melapisi cat furniturnya hingga tiga kali. Sebelumnya, ia memastikan dulu, barang-barang kerajinan atau furnitur itu benar-benar halus. Untuk menjaring lebih banyak pelanggan, Budiyana yang mengawali bisnis kerajinan kayu kelapa dari hobi, juga memberikan garansi selama tiga tahun, jika ada keretakan atau mengalami kerusakan yang berasal dari pengelolaan barang yang tidak teliti.

Di galerinya, Budiyana lebih banyak menjual pot scaping batok kelapa motif batik. Harganya, Rp 150.000-Rp 400.000 per unit.

Di showroom Riadina, kerajinan lampu menjadi pesanan favorit. Ia menyediakan tiga model lampu, yakni wall lamp silinder atau kotak, kemudianball tample lamp, dan floor tample lamp. "Bentuknya unik dengan serat bergaris pendek, ini menjadi ciri khas dari produk kami," ujar Riadina yang menjual lampu itu Rp 80.000-Rp 1,5 juta per unit. 

Belakangan, pesanan nampan dan mangkok juga makin banyak. Harga kedua barang ini berkisar Rp 18.000 hingga Rp 45.000 per unit. Berkat pesanan yang terus mengalir, pendapatan Radina pun melonjak. Kini, setiap bulan, dia bisa meraih omzet Rp 50 juta per bulan.

dan semoga informasi ini bermanfaat dan memberika inspirasi untuk membuka usaha... dari alam yang lainnya...

 SUMBER :http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/53473/Kerajinan-dari-kayu-kelapa-tengah-naik-daun-
 http://www.bahrul-ulum.com/peluang-usaha-kelapa

PENYADAPAN


PENYADAPAN TANAMAN KARET

Sistim penyadapan karet hendaknya mampu menghasilkan lateks yang banyak, biayanya rendah, dan tidak menganggu kesinambungan produksi tanaman. Oleh karena itu pelaksanaan penyadapan harus mengikuti aturan atau norma yang benar.

Tanaman mulai disadap pada umur 5-6 tahun atau matang sadap bila lilit batangnya minimal 45 cm, dan bila 60% tanaman telah matang sadap. Penyadapan dapat dilakukan selama 25--35 tahun. Sebelum disadap, kulit karet harus dibersihkan terlebih dahulu agar tidak terjadi pengotoran lateks. Tebal irisan sadap yang dianjurkan 1,5--2 mm. Sebaiknya, kedalaman sadap sedalam mungkin, tetapi tidak menyentuh kambium. Kedalaman yang dianjurkan 1--1,5 mm dari lapisan kambium. Penyadapan dilakukan pada pagi hari antara pukul 05.00-06.00, sedangkan pengumpulan lateks dilaksanakan antara pukul 08.00--10.00.

Alat
Alat-alat yang dibutuhkan dalam peng¬gambaran bidang sadap adalah mal sadap dan pisau mal. Mal sadap berupa sepotong kayu sepanjang 130 cm yang pada ujung¬nya dilengkapi plat seng selebar 6 cm dan panjangnya 50 - 60 cm; Plat seng dipakukan pada ujung kayu dengan posisi membentuk sudut 120 - 135 derajat. Pisau Mal terbuat dari besi berujung runcing dan bertangkai. Alat ini digunakan untuk menoreh kulit pada bidang sadap.
Arah dan Sudut Kemiringan Irisan Sadap
lrisan sadap diharapkan dapat memotong pembuluh lateks sebanyak mungkin agar lateks yang keluar maksimal. Posisi pembuluh lateks pada umumnya tidak sejajar dengan batang tanaman tetapi agak miring dari kanan atas ke kiri bawah. Agar pembuluh yang terpotong maksimum jumlahnya, arah irisan sadap harus dari kiri atas ke kanan bawah tegak lurus terhadap pembuluh lateks.

Sudut kemiringan irisan sadap berpengaruh terhadap produksi. Sudut kemiringan yang paling balk berkisar antara 30-40 derajat terhadap bidang datar untuk bidang sadap bawah. Pada penyadapan bidang sadap atas, sudut kemiringannya dianjurkan sebesar 45 derajat.

Pemasangan Talang dan Mangkuk Sadap
Talang dan mangkuk sadap dipasang setelah bidang sadap selesai digambar. Pemasangannya diletakkan di bawah ujung irisan sadap bagian bawah. Mangkuk sadap umumnya terbuat dari tanah liat, plastik atau alumunium. Mangkuk sadap dipasang pada jarak 15 cm - 20 cm di bawah talang sadap. 
Mangkuk sadap diletakkan di atas cincin mangkuk yang diikat dengan tali cincin pada pohon. Tali cincin terbuat dari ijuk atau bahan lainnya, sedangkan cincin mangkuk terbuat dari kawat.
Kulit pulihan disadap kembali setelah sembilan tahun untuk kulit pulihan pertama dan setelah delapan tahun untuk kulit pulihan kedua. Penentuan layak ¬tidaknya kulit pulihan disadap kembali, ditentukan oleh tebal kulit pulihan, minimun telah mencapai 7 mm.

Kedalaman Irisan Sadap
Selama penyadapan, kerusakan kambium yang terletak di antara kulit dan kayu selama penyadapan tidak boleh terjadi. 
Pengirisan kulit dilakukan dengan pisau sadap. Ada dua jenis pisau sadap yang biasa digunakan yaitu pisau sadap tarik dan pisau sadap dorong. Pisau sadap tarik digunakan untuk melakukan penyadapan pada bidang sadap bawah (mulai dari ketinggian 130 cm sampai ke kaki gajah), dengan arah sadapan ke bawah. Sementara itu pisau sadap dorong dianjurkan untuk penyadapan pada bidang sadap atas (mulai dari ketinggian 130 cm sampai dengan 260 cm), dengan arah gerak sadapan ke atas.

Kedalaman penyadapan diukur deng¬an menggunakan alas sigmat atau paku yang dipipihkan. Alat sigmat harganya mahal dan agak sulit diperoleh, sehingga untuk petani dianjurkan menggu¬nakan paku yang dipipihkan. Ujung paku yang dipipihkan mem¬punyai lekukan yang dalamnya pada satu sisi 1 mm dan pada sisi lainnya 1,5 mm.
Hasil sadapan (lateks) yang berada di mangkok sadap dituangkan ke dalam ember aluminium bersih bertutup. Kontak dengan udara menyebabkan lateks berkoagulasi (menggumpal). Pada perkebunan besar, lateks dalam ember dikumpulkan ke dalam tangki dan dibawa ke pengolahan dengan truk. Untuk mencegah koagulasi, perlu ditambahkan zat antikoagulan. Harus dipertimbangkan. antikoagulan ini akan diberikan di kebun atau di pabrik waktu pengolahan. Semuanya tergantung dari penyebab koagulasi, misalnya cuaca yang kurang baik. Jenis antikoagulan yang umum digunakan di kebun adalah amoniak 2--2,5%, soda (natrium karbonat) 10% sebanyak 5--10 ml/liter lateks, dan natrium sulfit 10% sebanyak 5--10 ml/liter lateks.
(Farida Salim)
Sumber: Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat, 1996, Balai Penelitian Sembawa - Pusat Penelitian Karet, Sembawa

PEMBENIHAN


SUMBER BENIH DAN REKOMENDASI KLON KARET

Salah satu faktor yang sangat penting dalam menentukan produktivitas tanaman karet adalah bahan tanam (bibit). Oleh karena itu, maka dalam menyiapkan bibit karet diperlukan perhatian yang khusus dan teknis budidaya yang tepat, baik dalam penyediaan batang bawah maupun pengelolaan batang atas pada kebun entres.

Sumber Benih. Bahan tanam yang direkomendasikan adalah bibit klonal, yang merupakan bahan tanam yang dikembangkan dengan cara okulasi (grafting) antara batang bawah (root stock) dan batang atas (scion) yang unggul. Klon karet di Indonesia dihasilkan oleh lembaga riset baik pemerintah maupun lembaga riset swasta.

Biji yang akan dipergunakan untuk batang bawah berasal dari kebun karet klonal penghasil biji yang mempunyi hasil tinggi. Di Indonesia kebun biji umumnya tersebar pada areal perkebunan besar dan atau proyek pengembangan karet. Syarat kebun sumber biji untuk batang bawah yaitu: terdiri dari klon monoklonal anjuran untuk sumber benih, kemurnian klon minimal 95%, umur tanaman 10-25 tahun, pertumbuhan normal dan sehat, penyadapan sesuai norma, luas blok minimal 15 ha, dan topografi relatif datar.
Rekomendasi Klon 2010-2014
Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 4 juta ton pada tahun 2025. Sasaran tersebut hanya dapat dicapai apabila minimal 85 persen areal perkebunan karet rakyat telah menggunakan klon-klon karet unggul. Pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet baru yang unggul sebagai penghasil lateks dan kayu. Potensi ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh pelaku agribisnis karet dalam rangka meningkatkan produktivitas kebun dan efisiensi usaha. Paradigma berkebun karet untuk menghasilkan lateks dan kayu harus dikembangkan dengan dukungan teknologi yang tepat untuk mewujudkan industri perkebunan karet yang sehat dan berdaya saing tinggi. Tindakan agronomi mulai dari pemilihan bahan tanam, teknik penanaman, pemeliharaan, dan system eksploitas harus mengacu kepada upaya optimasi hasil lateks dan kayu.
Klon Anjuran Komersial:
Klon penghasil lateks: IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 3 dan PB 340 Klon Penghasil Lateks-Kayu: RRIC 100, IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 107, dan IRR 119. Benih anjuran untuk batang bawah: AVROS 2037, GT 1, BPM 24, PB 260, RRIC 100, dan PB 330.
Tanaman sumber biji untuk batang bawah harus memenuhi syarat sebagai berikut: Blok tanaman monoklonal yang luasnya minimal 20 ha setiap blok, umur tanaman antara 10 s.d 25 tahun, dengan kerapatan tanaman ≥ 300p/h, areal tanaman terpelihara dengan baik dengan topografi datar sampai bergelombang, biji yang dapat dimanfaatkan berasal dari perkebunan besar atau proyek-proyek peremajaan karet dengan hamparan yang cukup luas. Klon-klon anjuran lainnya yang sudah dilepas seperti BPM 1, BPM 107, BPM 109, AVROS 2037, GT 1, PR 255, PR 300, PR 303, RRIM 600, dan RRIM 712 masih dapat digunakan, dengan beberapa pertimbangan, antara lain dengan memperhatikan kepentingan pengguna untuk penanaman klon tersebut pada wilayah tertentu dan spesifikasi produk.
Penulis: Lazarus Kanisius Ladja
Sumber: 1. Pedoman Teknis Budidaya Karet 
Direktorat Jenderal Perkebunan 2006
Departemen Pertanian,
2. Rekomendasi klon karet Periode 2010-2014, Muji Lasminingsih, Balai Penelitian Sembawa-Pusat Penelitian Karet.2010