Silika (Si) : Hara Penting Pada Sistem Produksi Padi

Indonesia merupakan negara agraris yang beriklim tropis. Namun ironisnya, masih banyak hasil pertanian yang saat ini diimpor dari Negara lain, bahkan bahan makanan pokok yang paling penting seperti beras. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, produksi padi 2012 diperkirakan sebesar 68,96 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebesar 3,20 juta ton (4,87 persen) dibandingkan 2011. Meskipun ada kenaikan pada produksi padi, tetapi impor komoditas beras negara Indonesia juga telah mencapai 1,8 juta ton dengan nilai US$ 945,6 juta. Jumlah impor bahan komoditas pangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia yang pada tahun 2012 sudah mencapai 257.516.167 jiwa (Berita Resmi Statistik, 2012). Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya nilai impor bahan komoditas pangan tersebut seperti semakin berkurangnya lahan pertanian, semakin tidak menentunya iklim, berkurangnya jumlah sumber daya manusia dan kurangnya informasi ilmu pengetahuan terkini mengenai tanaman tersebut.
Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut supaya Indonesia bisa kembali melakukan swasembada komuditas pangan (beras), perlu dilakukan beberapa inovasi-inovasi seperti pembukaan lahan pertanian baru, pemanfaatan lahan yang belum termanfaatkan seperti lahan gambut, dan penerapan teknologi pertanian yang menyangkut rekayasa teknologi tanaman dan nutrisi. Nutrisi tanaman merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kestabilan hasil tanaman pangan tersebut. Salah satu nutrisi tanaman yang sangat penting dan sudah dilupakan oleh para petani di Indonesia adalah nutrisi unsur hara silika. Pengaruh positif unsur hara silika pada tanaman padi ini telah banyak dilaporkan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Cina, Korea Selatan,Taiwan, India, Sri langka, Vietnam, Filipina, Brazil dan Kolombia.
Silika (Si) merupakan salah satu unsur hara yang dibutuhkan tanaman golongan gramenae seperti tanaman padi, tebu, jagung dan tanaman lain yang bersifat akumulator silika, terdapat di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman yang kekurangan Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah, (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan, (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan hama dan penyakit, (4) tanaman mudah rebah, (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit sehingga hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah.
Namun demikian, peran silika sebagai unsur hara yang dibutuhkan jenis tanaman tersebut belum mendapatkan perhatian secara serius. Meskipun bukan termasuk unsur hara esensial, silika dikenal sebagai unsur hara yang bermanfaat (beneficial element), terutama untuk tanaman padi, tebu dan jagung. Kebutuhan nutrisi silika pada tanaman golongan gramenae tergolong sangat tinggi, tanaman padi mengangkut silika 100-300 kg/Ha dan tanaman tebu mengangkut silika 500-700 kg/Ha  dalam sekali panen. Besarnya kandungan silika yang diambil setiap kali panen tersebut mengakibatkan miskinnya unsur hara silika dalam tanah yang menyebabkan berkurangnya produktivitas tanaman tersebut. Dengan semakin intensifnya penanaman padi (2-3 kali setahun), maka akan semakin menguras unsur hara silika di dalam tanah bila tanpa diimbangi upaya mengembalikan unsur hara silika secara cepat dan efektif ke dalam tanah.
Silika mempunyai peranan penting untuk tanaman padi, tebu, jagung dan tanaman lain yang bersifat akumulator silika dalam hal : 1) meningkatkan hasil produksi tanaman, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit; 2) meningkatkan efisiensi dan translokasi hasil fotosintesis; 3) memperkuat akar tanaman serta meningkatkan root oxidizing power yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap keracunan Fe, Al, dan Mn; 4) diprediksi dapat menurunkan penggunaan pupuk fosfat dan urea hingga lebih dari 50 % dosis standar; 5) memperkuat batang tanaman sehingga dapat mengurangi kerobohan; 6) menekan laju transpirasi sehingga efisien dalam menggunakan air dan lebih tahan terhadap kekeringan; serta 7) menetralkan pH tanah di Indonesia yang cenderung bersifat asam karena pemberian urea dan pestisida.
Pola pengembalian unsur hara silika ke dalam tanah yang umum dilakukan di pertanian Indonesia biasanya dengan memanfaatkan jerami setelah panen berupa kompos jerami maupun sekam padi. Namun demikian, jerami atau sekam padi biasanya diangkut ke luar sawah atau langsung dibakar sehingga tidak ada waktu untuk mendekomposisinya. Alternatif sumber pupuk silika adalah limbah pabrik baja (slag) dan fly ash. Limbah pabrik baja memang mengandung SiO2 cukup tinggi (40%), namun masih mengandung logam berat yang berbahaya bagi tanaman, sehingga diprediksi dapat menimbulkan masalah pencemaran logam yang ikut terbawa ke lahan/lingkungan. Di Luar negeri, penggunaan pupuk Si sudah sangat intensif, ada yang diberikan sebagai kapur yang mengandung Si dan Ca, atau sebagai pupuk Si komersial seperti gel silika dan fused magnesium silikat. Beberapa pupuk Si telah dijual secara komersial di luar negeri seperti kalsium silikat slag, fuse magnesium fosfat, kalium silikat, porous hydrate kalsium silikat, dan silika gel. Sumber-sumber pupuk silika tersebut belum banyak dikenal dan tersedia di Indonesia. Selain itu, beberapa jenis pupuk silika yang sudah ada dipasaran dunia tersebut masih mempunyai beberapa kelemahan, pupuk silika jenis kalsium silikat, magnesium silikat dan kalium silikat bersifat basa, sehingga jika sering digunakan akan meningkatkan nilai pH tanah menjadi basa yang bisa berdampak pada turunnya produktivitas tanaman. Sedangkan pupuk silika jenis silika gel, fly ash dan terak baja mempunyai kelemahan pada waktu penyerapan silika oleh tanaman tersebut. Hal ini karena pupuk silika jenis ini mengandung silika dengan ukuran partikel yang cukup besar, sehingga proses pemecahan/pelapukan partikel oleh lingkungan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Dengan memanfaatkan teknologi nano, saat ini kami telah dapat menghasilkan pupuk silika dengan ukuran nanometer (1x10-9 meter) sehingga dengan ukuran partikel yang sangat kecil tersebut silika akan lebih mudah dan cepat di serap oleh tanaman padi sehingga mampu meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Penerapan pupuk nanosilika untuk pola pertanian di negara maju seperti Jepang dan Korea telah banyak dikembangkan, oleh karena efektifitas (kecepatan) meningkatkan proses fotositesis, sehingga secara kualitatif dan kuantitatif produksinya meningkat. Pola ini sangat efektif dan cepat sekali untuk menggantikan unsur Si yang hilang oleh berbagai faktor.

Pupuk nanosilika ini telah diuji pada penanaman padi jenis “situ bagendit” di area lahan sawah milik Kelompok Tani Bangun Karyo di desa Cangkring, Kelurahan Kunir, Kec. Dempet, Kab. Demak, Jawa Tengah. Pada uji coba ini telah dihasilkan gabah padi seberat sekitar 7,5 ton/Ha. Hasil ini lebih banyak dibandingkan panen sebelumnya yaitu rata-rata 4-6 ton/Ha sehingga ada peningkatan sekitar 1,5 ton/Ha. Selain di desa Cangkring, kita melakukan promosi dengan memberikan tester di beberapa daerah seperti Karangrayung, Grobogan; Kaliurang - Imogiri, Yogyakarta; Batang; Jaten, Karanganyar; Karanggede, Boyolali; Sawahan – Dimoro – Muntilan – Krasak – Grabak, Magelang; Sukamaju, Kab. Bogor dan Tambun, Bekasi. Dari beberapa daerah tersebut, sebagian besar petani yang telah mencoba menggunakan pupuk nanosilika kembali memesan produk pupuk nanosilika ini untuk digunakan dalam proses penanaman padi musim berikutnya serta ada juga yang di jual kepada petani-petani lainnya yang tertarik dengan hasil panen padi yang menggunakan pupuk nano silika, sedangkan sebagian besar lainnya masih dalam proses menunggu hasil panen padinya.

Title: Silika (Si) : Hara Penting Pada Sistem Produksi Padi; Written byGufron
http://diponnanotech.blogspot.com/2013/09/silika-si-hara-penting-pada-sistem.html?spref=fb

Efek Samping Fungisida Golongan Azol / Azole


 Efek Samping Fungisida Golongan Azol / Azole

Salam pertanian. Sejak tahun 2000-an penggunaan fungisida golongan azol, seperti score, anvile, topcore, folicur, opus, danvil, booster dan lain sebagainya mulai memasuki tanaman padi. Hal ini dipelopori oleh PT Sygenta yang mulai memperkenalkan Score 250 ec untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman padi (hawar pelepah helmintosporium, bercak daun cercospora dan bercak daun alternaria). Sejak itulah fungisida golongan azol yang tadinya diperuntukkan hanya untuk tanaman hortikultura akhirnya petani secara umum menggunakannya untuk mengendalikan penyakit pada tanaman padi.

Sebenarnya fenomena penggunaan fungisida azol pada tanaman padi oleh petani bukan didasari oleh keinginan mengendalikan penyakit di pertanaman padi mereka. Para petani tertarik menggunakan fungisida ini karena efek samping yang ditimbulkan oleh fungisida azol ini. Biasanya setelah aplikasi fungisida azol dua kali yaitu saat tanaman padi berumur kurang lebih 45 hst dan 65 hst tanaman padi akan terlihat menguning (daun, pelepah, daun bendera dan bulir padinya). Hal inilah yang menjadi daya tarik oleh petani sehingga mereka menyebut fungisida ini sebagai booster padi (booster=alat yang biasa di untuk menjernihkan gambar pada TV).

Semenjak animo petani terbentuk untuk menggunakan fungisida azol pada tanaman padi maka berbondong-bondong perusahaan pestisida lain mengikuti langkah-langkah PT Sygenta ini. Perusahaan yang mengikutinya antara lain PT Bayer Cropscience (Folicur 25 WP[Tebuconazole], Folicur 250 EC[Tebuconazole], Bayleton 250 EC[Triadimefon]), Nufarm (Booster), Indagro (Top core), BASF (Opus), Dalzon (danvil) dll. Mereka berjuang memperebutkan pasar fungisida azol di tanaman padi.

Dari semua perusahaan tersebut semua mengunggulkan produknya masing-masing. Mereka mengeklaim kalo produknyalah yang paling mampu meningkatkan produksi paling tinggi untuk tanaman padi mereka. Yach namannya jualan obat, he he......

Kali ini yang akan saya bahas adalah bukan sejarah perkembangan fungisida azol melainkan efek samping fungisida tersebut pada pertumbuhan tanaman. Fungsi utama penggunaan fungisida azol pada tanaman adalah untuk mengendalikan penyakit pada tanaman tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri dari beberapa kali pengamatan lapangan hasil demplot beberapa produk fungisida azol tersebut ada semacam efek samping yang ditimbulkan pada pertumbuhannya. Yaitu bahwa fungisida golongan azol ini mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman dan akan mempercepat proses pertumbuhan generatif. Kesimpulan ini bisa saya ambil dari beberapa fenomena lapangan:
·                     Ketika Fungisida azol ini kita aplikasikan pada tanaman padi, padi akan mengeras batangnya, daun menguning termasuk daun bendera dan bulir juga cepat menguning.
·                     Ketika kita aplikasikan pada tanaman semangka muda (umur kurang lebih 1 minggu) tanaman akan berhenti tumbuh, daun kaku bahkan daun pucuk mengering.
·                     Jika kita aplikasikan pada tanaman kacang panjang atau mentimun saat awal pembungaan keluarnya bunga tanaman ini juga akan terpacu dan lebih serempak.

Karena fungisida ini mempunyai efek samping penghambatan fase pertumbuhan vegetatif tanaman dan merangsang pertumbuhan generatif tanaman maka sangat disarankan supaya tidak sembarangan mengaplikasi fungisida azol ini. Disarankan dalam mengaplikasikan fungisida azol ini sebaiknya menunggu saat tanaman memasuki pertumbuhan generatif (mulai berbunga).

Maksud dan tujuan penulisan artikel ini bukan lain hanyalah supaya petani lebih hati-hati dan lebih bijaksana dalam penggunaan fungisida golongan azol pada tanaman mereka. Dan akhir kata semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Berdasarkan dari golongannya, Fungisida golongan Azole ada 62 jenis bahan aktif :
1.            1,2,4-triazole
2.            1,2,4-Triazole-1-yl- acetic acid
3.            1-(2-(2-Chlorobenzyl)-2-hydroxy-3,3-dimethylbutyl)-1,2,4-triazole
4.            1-(4-phenyl phenoxy)-1-(1,2,4-triazole-1)-3,3-dimethyl butane-2-ol
5.            1-H-1,2,4-triazole-1-yl-acetic acid hydrochloride
6.            2-(2'-hydroxy-5-methyl phenyl)-benzotriazole
7.            4-(4-Chloro-2-cyano-1H-imidazol-5-yl)benzoic acid
8.            4-Chloro-5-(4-methylphenyl)-1H-imidazole-2-carbonitrile
9.            4-Chloro-5-(4-methylphenyl)-1H-imidazole-2-carboxamide (A metabolite of
10.          4-Chloro-5-(4-methylphenyl)-1H-imidazole-2-carboxylic acid
11.          Azaconazole
12.          Banrot (Terrazole with Thiophanate-methyl)
13.          Bitertanol
14.          Bromuconazole
15.          Bromuconazole 46
16.          Bromuconazole 47
17.          Cyazofamid
18.          Cyproconazole
19.          Difenoconazole
Difenokonazol (Difenoconazole), yang digunakan oleh Syngeta pada merek dagangnya Score 250 EC
20.          Diniconazole
21.          Econazole
22.          Econazole nitrate
23.          Etaconazole
24.          Fenapanil
25.          Fenbuconazole
26.          Fluotrimazole
27.          Fluquinconazole
28.          Flusilazole
29.          Flutriafol
30.          Furconazole
31.          Furconazole-cis
32.          Hexaconazole
33.          Imazalil
34.          Imazalil sulfate
35.          Imibenconazole
36.          Ipconazole
37.          Metconazole
38.          Metronidazole
39.          Myclobutanil
40.          Paclobutrazol
41.          Pefurazoate
42.          Penconazole
43.          Prochloraz
44.          Prochloraz - manganese complex (4:1)
45.          Prochloraz copper chloride complex
46.          Prochloraz zinc complex
47.          Propiconazole
48.          Propiconazole I
49.          Propiconazole II
50.          Prothioconazole
51.          R 23 979 Imazalil base
52.          Tebuconazole
Tebuconazole, yang digunakan oleh Bayer Crop Science pada merek dagangnya Folicur 25 WP & Folicur 250 EC. Cara kerja Tebuconazole adalah dengan cara memblokir jalan untuk sintesis sterol. Hasil dari interfensi pada fungsi lapisan ini secara pasti akan menyebabkan kematian untuk jamur berbahaya. Gambar Struktur Molekul Kimia Tebuconazole :

53.          Terrazole
54.          Tetraconazole
55.          Thiadiazole copper
56.          Triadimefon
Bahan aktif ini digunakan oleh Bayer Crop Science pada merk dagangnya Bayleton 250 EC dengan Komposisi Triadimefon 250 g/l. Fungisida triazole sistemik pertama yang memiliki spektrum luas, sangat efektif untuk mengontrol Ascomycetes, Basidiomycetes dan Fungi Imperfecti. Bayleton adalah fungisida yang sangat efektif dengan aktivitas sistematis, contohnya, bahan aktifnya dapat diserap dengan baik oleh tanaman dan disebarkan di dalam sistem tanaman. Bayleton efektif untuk mengatasi penyakit seperti white root, rust dan powdery mildew. Bayleton memberikan perlindungan, efek penyembuhan dan juga benar-benar membasmi penyakit. Bayleton menghambat dan mengintervensi pertumbuhan appresoria dan haustoria, pertumbuhan dari mycelium dan pembentukan spora. Fungisida ini diserap dengan sangat cepat oleh tanaman. Gambar Struktur Molekul Kimianya :

57.          Triadimenol
58.          Triazbutil
59.          Tricyclazole
60.          Triflumizole
61.          Triticonazole
62.          Uniconizole-P

Referensi :  
·                     http://www.pesticideinfo.org/
·                     http://www.pesticideinfo.org/

Antisipasi terhadap penyakit BLAST pada Tanaman Padi

Salah satu penyakit yang menjangkiti tanaman padi adalah blas leher atau dalam bahasa di tempat saya orang-orang menyebutnya Teklik  atau patah leher, ini biasanya terjadi ketika musim penghujan dan ketika tanaman padi sudah keluar malai. hal ini terjadi di tempat saya menanam padi yaitu di Desa Sukawera Kecamatan Kertasemaya Kabupaten Indramayu. ada beberapa petak sawah yang sangat parah terkena penyakit patah leher ini hiangga dianggap gagal panen, karena hampir 95 % pada yang sudah keluar malai dan sudah terisi sekitar 25% terkulai bagian pangkal malai sehingga menjadi gabug atau tidak berisi. 

Dalam pada itu PPL kecamatan Kertasemaya turun ke lokasi dalam rangka peninjauan ke area sawah yang terkena penyakit blas tersebut. dan hasil dari analisa dari PPL tersebut bahwa memang benar padi tersebut terkena penyakit blas, untuk itu PPL kecamatan kertasemaya me wanti-wanti agar terhindar dari penyakit ini lakukan penyemprotan dengan Fungisida pada fase Primordia atau  menjelang keluar malai ( Bunting Tua), dan untuk mengantisipasi penularan ke arah yang lebih luas maka ulangi penyemprotan dengan fungisida pada fase malai sudah meratak sekitar 50%.
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya penyakit blas leher (Neck Blas) pada tanaman padi ini diantaranya yaitu : Suhu udara yang lembab, adanya hujan ketika keluar malai, bibit yang mengandung penyakit ini.
berikut gambar sawah yang terserang penyakit blas leher ini :

Untuk  mengentisipasi agar tidak terjangkit penyakit ini maka lakukan hal-hal berikut :

Berikut adalah beberapa cara pencegahan dan Pengendalian:
1. Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi . 
Salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT (Organisme penggangu Tumbuhan) antara lain dengan jalan sebagai berikut : a. Penggunaan varietas tahan & pembenaman jerami Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : Inpari 13, Luk ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago dll. Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang. b. Pemupukan berimbang Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan. c. Waktu tanam yang tepat Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.

2. Penggunaan Fungisida Kimia & Nabati 
a. Fungisida Kimia Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna. Beberapa fungisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit blas adalah yang mengandung 

bahan aktif isoprotionalanebenomyl+mancosebkasugamycin dan thiophanate methyl,fosdifen contoh : mikocide 70, Trycyclazole, Amistartop, Score, Pyoguilon, Nelumbo 250 EC, Prima Vit dll
b. Fungisida Nabati Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi. Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana dari bahan-bahan sederhana.

Berikut ini adalah beberapa cara membuat Fungisida Nabati:

  1. Cara I Bahan-bahan yang diperlukan (masing-masing 1-2 kg) : 1. bawang putih 2. temu ireng 3. temu lawak 4. umbi gadung 5. kencur 6. kalau mau lebih mantap, bisa ditambah kunir putih Langkah pembuatan: Cuci semua bahan dan tumbuk hingga halus dan campurkan jadi satu, campuran tersebut direndam dalam air bersih ± 5 liter air dalam wadah tertutup dan biarkan 3-4 hari hingga terjadi proses fermentasi setelah itu larutan diperas dan disaring dan siap digunakan. Untuk aplikasi, larutkan biang fungisida ini dalam air bersih dengan perbandingan 1 bagian : 4/5 bagian. Cara aplikasi bisa dengan disemprotkan ke tanaman yang terserang penyakit/belum (untuk pencegahan) dan atau dikocorkan langsung ke pangkal tanaman. Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). 
  2. Cara II Bahan 1. Lenkuas/ laos 1 kg 2. Kunyit/kunir 1 kg 3. Jahe 1 kg Cara Pembuatan 1. Ketiga bahan ditumbuk atau diparut 2. Ambil sarinya dengan cara diperas 3. Bahan siap digunakan untuk 2 sendok makan dicampur dengan air 10 15 liter. 
  3. Cara III Bahan : 1. Jahe 1 kg 2. Lengkuas 1 kg 3. Kunyit 1 kg 4. Labu siam 1kg Caranya : Keempat bahan tersebut diparut lalu diperas dan disaring diambil airnya. Masukkan air saringan tersebut ke dalam botol atau tempat air lainnya untuk persedian sewaktu-waktu. Untuk pemakaian campurlah setiap satu liter air dengan 20 cc larutan fungisida tersebut. Jika diperlukan untuk bahan perekat lain dan sekaligus sebagai protein bagi tanaman maka tambahkan 2 butir telur ayam untuk campuran fungisida alami. 
  4. Cara IV Bahan Daun Sirih 300 Gram (± 30 lembar daun) Daun Jambu biji (± 30 lembar daun) Lengkuas 300 Gram Alat Blender Cara Pembuatan Bahan-bahan dihancurkan dengan blender dengan sedikit air. Kemudian diperas diambil airnya. 3-5 sendok dicampur 10-15 liter air untuk disemprotkan. 
  5. Cara V Bahan : Air Kelapa 7 liter Susu segar 1 liter/ susu kaleng 1 buah Kuning telur 7 butir Madu 1 sendok makan Gula 1 sendok makan CIU (arak lokal) 1 liter bisa diganti dengan alkohol Bahan-bahan tersebut dicampur dan dapat diaplikasikan dengan dosis 250 ml dicampur dengan air 10-14 liter (1 tangki) 
 Demikian tulisan saya kali ini mudah-mudahan bermafaat bagi Para Petani dimana saja berada, untuk yang mau berbagi tips atau tukar pengalaman silahkan memberikan komentarnya di blog saya ini.

Referensi  

  • http://epetani.deptan.go.id/budidaya/penyakit-blas-pyricularia-oryzae-cav-pada-tanaman-padi-pengendaliannya-5282
  • http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/index.php/in/penyakit-padi-karena-jamur/200--penyakit-blas-
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Antisipasi terhadap penyakit Blas pada Tanaman PADI
Ditulis oleh Rozuqni -
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://pertanianorganik0.blogspot.com/2013/04/antisipasi-terhadap-penyakit-blas-pada.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

Rencana Kegiatan Petugas PPL BUN BP3K Sungai Kakap Tahun 2014 ( by. CECE LILI WARLIA / PPL BUN DESA PUNGGUR KECIL )

  1. PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Pengendalian Hama Plesispa Secara Kimiawi :

Persiapan:
  1. Pengamatan dan menentukan areal yang akan dikendalikan.
  2. Menentukan / memilih Pestisida yang akan digunakan.
  3. Menentukan waktu pelaksanaan Aplikasi.

Alat alat yang diperlukan
1.        Hand Sprayer dan Spayer kecil.
2.        Masker.
3.        Sarung Tangan.
4.        Ember Plastik
5.        Saringan.
6.        Parang Pendek.

Langkah kerja.
  1. Pohon Kelapa yang terserang dibersihkan dibagian celah celah pelepah, terutama pada tanaman yang telah menghasilkan.
  2. Pestisida yang digunakan sebaiknya Pertisida Sistemik, mengingat Hama Kumbang Janur(Plesispa.Sp) aktif dimalam hari karena kumbang janur kelapa peka akan sinar matahari.
  3. Siapkan Pestisida, air dan ember, lalu pestisida diaduk dalam air lapangan dengan dosis yang telah ditentukan, biasanya dosis  3.ml pestisida dicampur dengan 1 liter air.
  4. Masukan pestisida yang telah dicampur tadi kedalam Hand Sprayer dan Sprayer kecil sambil disaring.
  5. Untuk pohon yang telah berbuah / pohon tinggi harus dipanjat dengan mengunakan sprayer kecil.
  6. Penyemprotan dilakukan dilipatan daun muda dengan cara daun muda dibuka, karena hama Kumbang Janur kelapa bersesembunyi diantara lipatan janur dengan menggunakan Sprayer kecil untuk tanaman yang sudah besar / tinggi.
  7. Lakukan pengamatan setelah 4 hari penyemprotan, sambil diulang kembali apabila masih kedapatan hama kumbang janur kelapa.
  8. Pengendalian dengan cara kimiawi harus bijaksana, artinya apabila serangan masih sedikit  lakukan pengendalian dengan terarah agar tidak menimbulkan resistansi pada hama tersebut dan juga menghindarkan agar predator tidak ikut terbunuh.





 2. PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Pengendalian Hama Tikus dengan Klerat dan melapisi batang kelapa dengan seng :

Persiapan:
  1. Pengamatan tanaman yang teridentifikasi terserang hama tikus dan menentukan areal yang akan dikendalikan.
  2. Menentukan / memilih Pestisida / Rodentisida yang akan digunakan.
  3. Menentukan waktu pelaksanaan Aplikasi.

Alat alat dan bahan yang diperlukan
1.      Rodentisida Klerat.
2.      Seng lembaran 1 gulung.
3.      Gunting seng
4.      Paku.
5.      Tokol / palu.
6.      Parang Pendek.

Langkah kerja.
  1. Pohon Kelapa yang terserang dibersihkan dibagian celah celah pelepah, terutama pada tanaman yang telah menghasilkan.
  2. Siapkan Klerat dan Seng lembaran
  3. Untuk pengendalian dengan Klerat, telakan klerat tersebut dicelah celah pelepah dengan cara memanjat dan usahakan klerat tersebut terlidung air hujan, demikian juga untuk dibawah batang klerat yang diletakan harus diberi naungan.
  4. Klerat adalah merupakan racun yang menimbulkan sifat Kogulasi artinya setiap satwa yang memakan Klerat akan mengalami pendarahan yang tidak akan berhenti, sekecil apapun luka yang dialaminya ( darah tidak Membeku ).
Pendarahan biasanya terjadi dilambung tikus karena gesekan pada alat pencernaan.
Klerat dianggap tidak efektif karena daya bunuhnya yang lambat, untuk diingat apabila klerat tertelan oleh manusia dan tidak dapat dimuntahkan biasanya orang tersebut diberi suntikn Vitamin K dosis tinggi untuk meningkatkan Anti kogulan pada darah.
  1. Lakukan pemeriksaan pada umpan umapan yang dipasang tersebut, apakah sudah dimakan tikus.
  2. Untuk pengendalian dengan menggunakna lembaran seng, seng tersebut digunting dengan ukuran panjang 80 -90 cm dan lebar ± 40 cm.
  3. Lekatkan seng yang telah digunting tadi secara melintang, sampai membungkus batang pohon kelapa dengan cara dipaku dengan ketinggian ± 2- 3 mtr dari pangkal batang.
  4. Usahakan agar tajuk pohon yang satu dengan yang lain tidak bersentuhan, apalagi jika tajuk pohon yang bersentuhan tidak dibungkus seng, hal ini akan meberikan jalan bagi tikus untuj pindah kepohon lain.
  5. Apabila seng telah berkarat sebaiknya cepat diganti.





 3. PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Demonstrasi cara Pemilihan Buah Kelapa
 Dan Pemupukan Pohon Kelapa yang berumur 5 Tahun


Persiapan:
  1. Pengamatan tanaman yang akan dipetik buahnya dan menentukan areal  tanaman muda ( umur ± 5 thn ) yang akan dipupuk.
  2. Menentukan / memilih pupuk yang akan digunakan.
  3. Menentukan waktu pelaksanaan Aplikasi.

Alat alat dan bahan yang diperlukan
1.      Parang pendek.
2.      Keranjang / karung.
3.      Pupuk PNK 25.kg

Langkah kerja.
  1. Pohon Kelapa yang akan dipanjat sudah harus dipastikan ada buahnya yang telah cukup umur dan siap dipetik.
  2. Buah yang akan dipetik benar benar telah memenuhi syarat untuk dipanen, dengan ketentuan sebagai berikut:
Ø  Telah berumur ± 11 bulan.
Ø  Warna kulit buah coklat atau 2/3 dari kulit buahnya  telah berwarna coklat.
Ø  Kandungan air didalam kelapa akan berbunyi koclat apabila buah tersebut digoncang goncangkan.
  1. Buah kelapa yang dipanen sesuai dengan ketentuan tersebut akan menghasilkan:
Ø  Kadar minyak yang Optimal.
Ø  Proses pengeringan akan lebih cepat dan baik.
Ø  Tidak mudah tengik karena kadar air yang kurang.
Ø  Hasil kopra berwarna bening dan liut apabila dipatahkan.
  1. Pemupukan tanaman kelapa berumur 5 tahun, biasanya tanaman tersebut baru mulai berbuah dengan tingggi tanaman ± 4 meter.
  2. Pupuk yang digunakan dalam Demscara ini pupuk NPK. 15 :15 :15, dengan dosis 450 gram sampai 500.gram.
  3. Bersihkan areal disekitar pangkal batng tanaman yang akan dipupuk dengan diameter 2meter – 2,5 meter.
  4. Buat larikan secara mengeling sedalam 5 – 10 cm, lalu taburkan pupuk sesuai dosis dan kemudian  larikan yang telah diberi pupuk ditutup kembali, atau bisa juga dengan membuat lubang secara mengeliling ± 10 lubang lalu masukan pupuk dan tutup kembali.
  5. Pemupukan hendaknya dilakukan pada akhir musim hujan ( Maret / April ) dan pada awal musim hujan ( Oktober / Nopember )
  6. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun. 
      





4.      PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Cara Penyayatan buah kelapa sebelum di deder
dan Pengendalian gulma dengan herbisida kontak & sistemik


Persiapan:
1.      Mengumpulkan buah kelapa yang akan didederkan.
2.      Seleksi buah yang akan dijadikan benih.
3.      Menentukan lahan kebun yang akan disemprot herbisida

Alat alat dan bahan yang diperlukan
1.      Parang pendek.
2.      Keranjang / karung.
3.      Hand Sprayer
4.      Ember,
5.      Masker dan sarung tangan karet

Langkah kerja.
  1. Menyiapkan dan mengolah lahan untuk pendederan.
Ø  Buah yang telah diseleksi disayat pada bagian atas dekat pangkal tunas dengan diameter 5 cm dengan kedalaman ± 2.cm.
Ø  Tujuan penyayatan adalah untuk memudahkan meresapnya air melalui sayatan tersebut sehingga keadaan kelapa menjadi bawah dan lembab saat disiram.
Ø  Letakan buah yang telah disayat tapi pada bedengan dengan dibenamkan 2/3 dari buah tersebut dan pangkal sayatan diusahakan menghadap ketimur ( terbitnya Matahari )
Ø  Penyiraman dilakukan 2 kali sehari, akan tetapi jika musim penghujan tidak perlu disiram.
Ø  Setelah ± 2 – 3 minggu tunas akan muncul, dan setelah 1bulan lebih benih dapat dipindahkan ke pembibitan ( bisa dipolybag atau ditanah langsung ) dengan jarak Pembibitan 75cm x 75cm.
  1. Pengendalian Gulma dengan Herbisida.
Ø  Tentukan Herbisida yang akan digunakan, disesuaikan dengan gulma yang terdapat dilahan kebun tersebut.
Ø  Tujuan Pengendalian / penyemprotan untuk pemeliharaan atau pemanfaatan lahan untuk tanaman semusim.
Ø  Apabila untuk pemeliharaan gunakan Herbisida Sistemik, dan apabila untuk pemanfaatan lahan gunakan herbisida Kontak dan sesuaikan dengan gulmanya ( daun lebar atau daun sempit )
Ø  Waktu penyemprotan harus memperkirakan cuaca, apakah 2 jam kemudian akan turun hujan, sebab ada herbisida yang akan efektif bekerja setelah 2 jam dari saat penyemprotan utama herbisida sistemik.
Ø  Lakukan penyemprotan pada pagi hari dan pada gulma yang sedang mengalami pertumbuhan generatif.
Ø  Gunakan dosis sesuai aturan dan lakukan penyemprotan dengan mengikuti arah angin. 
      
                                     





5. PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Pengendalian Hama Ulat Kantong dengan Insektisida

Persiapan:
1.      Pengamatan kebun yang diduga terserang hama ulat kantong ( Mahasenna Corbetti Term) .
2.      Menentukan pohon kelapa yang akan dijadikan media Demontrasi cara.
3.      Menentukan waktu pelaksanaan.

Alat alat dan bahan yang diperlukan
1.      Parang pendek.
2.      Pestisida.
3.      Mata bor

Langkah kerja.
1.      Pohon kelapa yang sudah ditentukan dan diduga terserang hama ualt kantong        ( Mahasena Corbetti Term ) diberi tanda dan dilakukan
Ø  Pengeboran pada batang kira kira 1 meter dari pangkal batang dengan kemiringan pengeboran 45 derajat sedalam 10 -15 cm, diameter mata bor 1cm.
Ø  Tuangkan Pestisida (sistemik ) kedalam lubang batang yang dibor tadi sampai hampir penuh.
Ø  Sumbat lubang tersebut dengan cara dipasak pakai kayu.
Ø  Petiklah buah kelapa sebelum melakukan penyuntikan perstisida, karena Pestisida tersebut akan meresap pada buah dan akan menimbulkan keracunan.
Ø  Hama ulat kantong ( mahasena Corbetti Term ) sangat sulit dikendalikan dengan cara disemprot, karena anggota tubuhnya terbungkus oleh serat dalam bentuk kantong, dan hanya bagian kepala atau kadang kadang sebagian toraknya keluar, itupun akan masuk kembali kedalam kantongnya apabila ada gangguan dari luar.
Ø  Hal yang paling efektif dalam pengendalian ulat kantong adalah secara manual dengan menangkap dan mengumpulkannya lalu dibakar.
      
                                       





6.      PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Pengendalian Hama Oryctes dengan menggunakan jamur Metharizium :



Persiapan:
4.      Pengamatan tanaman Kelapa yang diduga terserang ham kumbang ( Oryctes Rinnoseros.)
5.      Menentukan / menetapkan lahan kebun yang akan dijadikan media Demontrasi Cara.

Alat alat dan bahan yang diperlukan
7.      Janur Metharizum Anisoplae. 1.kg
8.      Papan  20cm. x 4 meter 4 keping
9.      Gergaji,tokol,paku dan parang
10.  Serasah,lapukan organik

Langkah kerja.
  1. Menyiapkan dan membuat media  dari papan yang diisi lapukan Organik untuk jebakan / traping.
Ø  Papan dipotong dengan panjang 1 meter, lalu dibentuk segi empat dari 4 potong papan tersebut menjadi segi 4.
Ø  Telakan papan yang sudah dibuat tersebut diantara tanaman kelapa yang memungkinkan akan disinggahi oleh kumbang.
Ø  Kotak papan tadi diisi dengan lapukan organik ( serbuk gergaji,ampas sagu, sekam, kotoran sapi dll )
Ø  Pada media tersebut ditaburkan jamur Metharium secukupnya, sambil diaduk aduk.
Ø  Usahakan peletakan media tersebut terhindar dari hujan ( terlindung).
Ø  Kumbang Janur akan aktif pada malam hari dan akan mencari sarang biasanya pada tempat tempat yang mengandung lapukan organik seperti bekas limbah penggilingan sagu, sekam padi yang telah lapuk, dan di dekat kandang sapi, karena larva kumbang biasanya hidup pada tempat tempat tersebut.
Ø  Apabila Kumbang tersebut terinpeksi, dengan sendirinya akan menularkan jamur tersebut pada kumbang yang lain.
  1. Pengendalian dengan mencari sarang sarang Larva.
Ø  Periksa lahan lahan yang menjadi tumpukan lapukan organik seperti, sekam padi yang telah lapuk, disekitar penggilingan sagu dan kandang sapi.
Ø  Apabila pada tempat tempat tersebut terdapat larva kumbang janur, maka ditempat tersebut dapat ditaburkan Metharizum Anisoplae.
Ø  Jamur tersebut akan bekerja dengan cara menularkan jamur pada tumbuh larva ( terinpeksi jamur ), larva kumbang yang terinpeksi akan menjadi biru kehijauan dan tubuhnya akan sedikit mengeras.
Ø  Lakukan pemeriksaan secara rutin ( 4 hari sekali ) apakah ada larva yang terinpeksi jamur tersebut.
      





7.      PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Pengendalian Hama Ulat Api ( Hidari ) dengan menggunakan Insektisida :


Persiapan:
1.      Pengamatan tanaman Kelapa yang diduga terserang hama Ulat api ( Hidari )
2.      Menentukan / menetapkan lahan kebun yang akan dijadikan media Demontrasi Cara.

Alat alat dan bahan yang diperlukan
  1. Insektisida.1.lter
  2. Mata Bor dengan diameter 1cm.
  3. Hand Sprayer.
  4. Ember, saringan, masker dan sarung tangan

Langkah kerja.
 1. Menyiapkan dan menentukan tanaman yang akan dijadikan media Demonstrasi   cara dengan melakukan.
a.      Lakukan pemetikan buah kelapa yang diperkirakan akan dipanen 2 bulan kemudian, hal ini untuk mencegah terjadinya keracunan karena pengendalian ini dilakukan dengan cara disuntuikan, dimana Insektisida tersebut akan menyebar kesemua jaringan tanaman .
b.      Pohon kelapa yang sudah ditentukan dan terserang hama ulat api tersebut, di bor sedalam 5 – 10 cm dengan kemiringan 45 derajat dan tingginya kira kira 1 meter dari pangkal batang.
c.       Masukan insektisida (sistemik ) tersebut kedalam lubang yang tealh dibuat tadi sampai hampir penuh.
d.      Sumbat lubang tersebut dengan cara dipasak dengan kayu rapat rapat.
2.  Pengendalian dengan cara disemprot, namun hal ini terlalu sulit apabila  pohon kelapa tersebut cukup tinggi.
Ø  Campurkan Insektisida denga air lapangan sesuai dosis yang telah ditentukan. ( 2-3 ml Insektisida/ 1 liter air )
Ø  Penyemprotan ini hanya dapat dilakukan pada tanaman tanaman yang masih muda / rendah.
Ø  Untuk tanaman yang tinggi bisa dilakukan dengan menggunakan Power Sprayer.

      





8.      PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Pemeliharaan Parit Kebun dan Pengendalian Hama Tupai

Persiapan:
1.      Menentukan / menetapkan lahan kebun yang akan dijadikan media Demontrasi Cara
2.      Pengamatan tanaman Kelapa yang diduga terserang hama Tupai
3.      Menentukan dan menetapkan jadwal pelaksanaan


Alat alat dan bahan yang diperlukan
  1. Cangkul,Penggali. tamggok
  2. Parang pendek,kawat halus
  3. Bilah Kayu ( dari kayu belian )
  4. Umpan ( dari kelapa )

Langkah kerja.
 1. Menyiapkan dan menentukan lahan akan dijadikan media Demonstrasi   cara
    1. Gulma yang berada disekitar tepian parit dibersihkan dengan cara ditebas.
    2. Mengangkat lumpur lumpur yang telah mengendap dengan menggunakan tanggok dan lumpurnya ditimbunkan ditepi tanggul parit.
    3. Untuk kebun / lahan pasang surut tipe A diperlukan pagung / pintu air untuk mengatur keluar masuk air.
    4. Pemeliharaan poarit dilakukan setahun sekali.
      2. Pengendalian hama Tupai dengan jebakan / Blantik, Hama tupai sangat sulit dikendalikan mengingat hama tersebut sangat lincah bergerak
aBilah kayu yang telah disediakan berbentuk pipih lebar ± 4cm, panjang ± 35cm.
b.   Pada bagian ujung pangkal ( kira kira jarak 2cm dari ujung pangkal ) diberi lubang  2 buah untuk memasukan kawat halus.
c.   Masukan kawat halus pada lubang yang telah tersedia sepanjang 50cm lalu pada bagian atas dibentuk lingkar dengan diameter 7cm dan kawat bagian bawah untuk pemberat dan umpan dari potongan kelapa.
d.   Blantik dipasang dengan cara dipasakan pada batang pohon kelapa,dimana sebebelumnya blantik pada ujung pangkal yang satunya telah diruncingkan.
e.   Tupai akan terjerak apabila unpan yang terpasang dimakan







9.      PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Cara Pasca Panen & Pembuatan Minyak VCO

Persiapan.
1.      Menentukan / menetapkan kebun kelapa yang akan dipanen.
2.      Memilih buah kelapa yang akan dijadikan minyak VCO.
3.      Menentukan / menetapkan waktu pelaksanaan.

Alat alat dan Bahan yang diperlukan.
1.      Parang pendek.
2.      Karung / keranjang.
3.      Suik / alat pengupas sabut.
4.      Buah Kelapa
5.      Alat pencungkil  daging buah.
6.      Parutan kelapa.
7.      Wadah untuk santan.
8.      Saringan. (kertas penyaring )

Langkah Kerja.

1.      Buah kelapa yang  dipetik / dipanen hendaknya buah yang telah cukup umur ± 11 bulan selanjutnya diangkut untuk diolah.
Ø  Buah yang telah dikupas sabutnya,  dibelah 2 lalu dijemur / dipanggang untuk memudahkan pengambilan daging buah dari tempurung.
Ø  Daging buah yang telah terlepas dari tempurung tadi dijemur kembali / dipanggang untuk dijadikan kopra.
Ø  Proses penjemuran / pemanggangan harus baik dan merata agar diperoleh kopra yang baik.
Ø  Waktu penjemuran 3 -4 hari atau tergangung cuaca, jika dipanggang benar benar dengan panas bara api bukan panas asap.
Ø  Proses pengolahan yang baik akan menghasilkan kopra yang baik dengan ciri : Kopra akan tampak bersih, warna bening dan apabila digengang tekstusnya lentur ( tidak patah ) dan kadar airnya kurang dari 10 persen.
Ø  Sebelum dipasarkan, dikemas dalam karung dan disimpan ditempat / ruangan yang kering dan terbuka.

2.      Membuat minyakVCO, minyak VCO sebenarnya merupakan minyak kelapa yang pembuatannya tanpa melalui proses pemanasan, sehingga minyak yang dihasilkan akan berwarna bening seperti air hujan.
Ø  Buah kelapa yang telah dipilih selanjutnya diparut dan diambil santannya dengan cara dipres agar pengambilan santan dapat optimal.
Ø  Santan ditampung dalam satu wadah dan biarkan selama 24 jam agar terjadi pemisahan antara minyak, santap dan air ( akan terjadi 3 lapisan pemisahan )
Ø  Pada proses dalam jumlah banyak, bisa dilakukan proses Sentripugal.dan jangan salah paham sentripugal bukan diaduk dengan mixer tapi wadah yang berisi santan yang diputar dengan alat.
Ø  Minyak akan berada dipermukaan atas, selanjutnya diambil dan disaring dengan kertas saringan, bila perlu lakukan penyaringan berulang ulang.
Ø  Minyak VCO yang baik dan benar tidak mengandung unsur unsur lain yang ditambahkan ( Murni )







10.  PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Cara Pembuatan Arang Tempurung



Persiapan
1.      Mengumpulakan Tempurung Kelapa.
2.      Menentukan jadwal Pelaksanaan.

Alat dan Bahan bahan.
1.      Drum bekas minyak / oli.
2.      Karung.
3.      Temurung Kelapa.

Langkah Kerja.
Drum bekas minyak / oli yang telah dibuka satu sisi permukaannya, kita tarung pada tempat yang terlindung dari cuaca hujan.

Ø  Masukan tempurung kelapa kedalam drum tersusun rapi, tapi tidak penuh ( ±¼ bagian )  lalu dibakar.
Ø  Selanjutnya masuk kembali tempurung kelapa tersebut secara bertahap sampai Drum tersebut penuh.
Ø  Apabila Tempurung tersebut diperkirakan sudah menjadi bara, bagian atas Drum ditutup dengan lempengan besi ( bekas permukaan drum tersebut ).
Ø  Selanjutnya ditutup dengan karung goni yang masah dan biasanya diatas penutup tersebut diberi tanah cair atau Lumpur, tujuannya agar tidak ada celah udara yang terbuka.
Ø  Biarkan selama 1 hari agar bara dalam drum padam dan dingin dengan sendirinya.
Ø  Setelah dingin tempurung tersebut sudah menjadi arang tempurung dan keluarkan dari Drum.
Ø  Kemas arang tempurung tadi dalam karung dan simpan ditempat teduh terlindung dari hujan.







11.  PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Cara Pengendalian Busuk Pucuk

Persiapan.
1.      Mencari dan menentukan tanaman kelapa yang diperkirakan terserang penyakit busuk pucuk, akan dijadikan media Demontrasi cara.
2.      Menentukan jadwal / waktu pelaksanaan.

Alat dan Bahan.
1.      Parang. Kapak, cangkul / penggali.


Langkah Kerja.
1.Pengendalian penyakit tanaman sangat sulit, mengingat apabila tanaman telah terserang penyakit cenderung susah dipulihkan ( akan mati ), untuk itu upaya yang dilakukan adalah pencegahan terhadap tanaman yang belum terserang dengan cara:
Ø  Pucuk tanaman yang terserang akan terlihat menguncup dan berwarna kecoklat coklatan lama kelamaan akan membusuk.
Ø  Bongkar / tebang  tanaman yang terserang tersebut, lalu pucuk yang terserang  dikumpulkan dan dibakar.
Ø  Bagian tunggul tanaman harus dibongkar juga dan dibakar, dan bekas lubang tanaman tadi sebaiknya disterilkan dan dibiarkan beberapa lama ( jangan menanam ditempat tersebut )
Ø  Usahakan kebersihan kebun selalu terjaga dan terrawat, sebab penyakit busuk pucuk akan tumbuh subur pada kebun kebun yang kotor dan lembab.






12.  PELAKSANAAN DEMONSTRASI CARA

Pemanfaatan limbah air kelapa

Persiapan.
1.      Mengumpulkan kelapa yang akan diambil airnya.
2.      Menentuka jadwal / waktu pelaksanaan.

Alat dan bahan
1.      Ember besar,
2.      Jerigen
3.      Air Kelapa.
4.      Gula Pasir
5.      Essen
6.      Panci
7.      Kompor
8.      Botol

Langkah Kerja.
1.      Limbah air kelapa dapat dimanfaat untuk dijadikan : NataDeCoco, Cuka Makan, Sirup Air Kelapa dan pupuk Cair.

Ø  Membuat  Sirup  dari Air Kelapa
a.       Air kelapa yang telah disaring direbus dalam panci sebanyak sebanyak 2 liter  ditambah gula pasir 1.kg diaduk aduk selama 15 menit.
b.      Masukan essen secukupnya ( essen tergantung selera )  dan ditambahkan bahan pengawet ( Sodium )
c.       Setelah 15 menit angkat dan dinginkan, saring masukan dalam botol kemasan.

Ø  Membuat pupuk cair
a.       Air kelapa yang telah terkumpul masukan dalam wadah, lalu ditambahkan dengan air bekas cucian beras atau air bekas limbah pabrik tahu dengan perbandingan  2 : 1, selanjutnya tuangkan EM.4 dengan takaran 3 – 5 ml / liter.
b.      Hasil campuran tadi dimasukan dalam wadah tertutup atau boleh Gerigen dan simpan ditempat teduh tidak boleh terkena sinar matahari dibiarkan selama 2 minggu.
Penggunaanya dengan cara disemprotkan pada permukaan bawah daun, atau disiramkan pada tanah disekeliling tanaman.